Kebakaran Lahan Cihanja Bandung Diduga Dipicu Gas Metan

  • 16 Sep 2026 05:58 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Kebakaran lahan di kawasan Cihanja, RT 001/RW 010, Kelurahan Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, diduga mulai terjadi sekitar pukul 18.45 WIB. Berdasarkan laporan warga dan Ketua RW setempat, saat kejadian terdapat sejumlah orang yang berada di sekitar lokasi.

‎Camat Cidadap, Kota Bandung, Maulana Fatahudin mengatakan, titik api pertama kali terdeteksi berada di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat api sulit terlihat secara langsung dan lebih menyerupai bara yang berada di dalam tumpukan material.

‎"Indikasi awal kejadiannya sekitar pukul 18.45 WIB, sesuai laporan yang masuk. Berdasarkan laporan warga dan Ketua RW, pada saat kejadian juga terlihat ada beberapa orang yang berada di lokasi tersebut. Jadi, awal mulanya memang terdeteksi titik api di bawah permukaan," ujar Maulana saat ditemui di lokasi kebakaran lahan Cihanja, Selasa 15 September 2026.

‎‎Menurutnya, kebakaran di lokasi tersebut bukan pertama kali terjadi. Peristiwa serupa telah berulang hingga tiga kali dalam kurun waktu sekitar tiga tahun terakhir.


Maulana menjelaskan, kawasan tersebut sebelumnya merupakan lokasi tumpukan sampah yang kemudian ditutup dan dialihfungsikan menjadi tempat pembuangan material brankar. Namun, diduga masih terdapat kandungan gas metan di bawah tumpukan material sehingga berpotensi memicu munculnya api.

‎‎"Sebagai latar belakang, peristiwa ini sebenarnya sudah berulang dalam kurun waktu hampir tiga tahun. Dulu lokasi ini merupakan tumpukan sampah, lalu kami tutup dan alihkan fungsinya menjadi tempat pembuangan sampah brankar. Namun, di bawah tumpukan tersebut diduga masih terkandung gas metan yang memudahkan terjadinya kebakaran atau munculnya api," katanya.

‎‎Lahan tersebut diketahui memiliki luas sekitar 2,2 hektare dan merupakan milik pribadi. Di lokasi juga terdapat petugas yang bertugas menjaga kawasan sekaligus melakukan pemilahan sampah.

‎‎Maulana menyebut, karakter api di lokasi cukup berbeda dengan kebakaran lahan pada umumnya. Api cenderung tersembunyi di bawah permukaan, sementara asap baru terlihat keluar ketika tertiup angin.

‎‎"Apinya kondisinya seperti tersembunyi di bawah, mirip bara api. Agak tidak biasa, asapnya baru terlihat keluar jika tertiup angin," ujarnya.

‎‎Ia menambahkan, berdasarkan pengalaman pada kejadian sebelumnya, kebakaran serupa bahkan pernah berlangsung cukup lama. Pada tahun sebelumnya, kondisi api dan bara di bawah permukaan disebut berlangsung hingga sekitar tiga bulan dan baru benar-benar mereda setelah turun hujan.

‎‎"Kalau melihat pengalaman setahun atau dua tahun lalu, kejadian serupa pernah terjadi dan berlangsung dalam kondisi seperti ini sekitar tiga bulan. Biasanya baru benar-benar pulih jika turun hujan. Jadi memang kondisinya cukup spesifik," katanya.

‎‎Maulana memastikan kejadian kali ini merupakan yang ketiga dalam tiga tahun terakhir. Menurutnya, kebakaran paling parah terjadi pada tahun sebelumnya. Namun, pemerintah bersama petugas terkait kini melakukan penanganan secara langsung agar api tidak dibiarkan hingga keesokan harinya.


‎‎"Ini kali ketiga dalam tiga tahun terakhir. Kalau yang paling parah sepertinya kejadian tahun lalu. Namun, karena belajar dari pengalaman, hari ini kami turun sepenuhnya untuk memadamkan api, tidak menunda hingga besok pagi," katanya.

‎‎Sementara itu, dampak asap kebakaran dirasakan langsung oleh warga di sekitar RW 03, RW 02, dan RW 10. Selain permukiman warga, keberadaan asap juga berpotensi mengganggu sejumlah fasilitas umum di sekitar lokasi.

‎‎Di sekitar kawasan kebakaran terdapat dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Maulana mengatakan, aktivitas dapur sempat terganggu akibat asap, tetapi kondisinya masih aman dan kegiatan produksi makanan bergizi untuk anak-anak tetap dapat berlangsung.

‎‎"Di sebelah kiri ada dapur SPPG. Tadi sudah saya tanya Kepala Dapur, katanya kegiatan cukup terganggu, namun untuk sementara aman dan tetap bisa memproduksi makanan bergizi bagi anak-anak," ujarnya.

‎‎Dampak asap juga menjadi perhatian karena di arah timur atau bagian bawah lokasi kebakaran terdapat sejumlah sekolah, di antaranya SMP Negeri 52, SMA PGRI, dan sekolah dasar.

‎‎Pemerintah Kecamatan Cidadap telah berkoordinasi dengan pihak sekolah dan mengimbau para siswa menggunakan masker sebagai langkah antisipasi terhadap paparan asap.

‎‎Meski demikian, berdasarkan pemantauan pada Selasa pagi, debu dan asap dari lokasi kebakaran belum mencapai kawasan sekolah tersebut.

‎"Saat pemantauan pagi tadi, debu dan asap belum sampai ke wilayah sekolah tersebut," tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....