Dewas RRI Dorong Transformasi dan Inovasi Hadapi Disrupsi Media

  • 11 Sep 2026 15:12 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Memasuki usia ke-81 tahun, Radio Republik Indonesia (RRI) dihadapkan pada tantangan untuk terus beradaptasi di tengah perubahan teknologi dan dinamika media yang semakin cepat.

Ketua Dewan Pengawas LPP RRI Anwar Mujahid Ady Trisnanto mengatakan, usia panjang sebuah lembaga justru dapat menjadi tantangan tersendiri apabila tidak diikuti dengan kreativitas dan inovasi.

‎Menurutnya, rutinitas yang berjalan biasa-biasa saja, kurang kreatif, dan minim inovasi dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan RRI sebagai lembaga penyiaran publik yang harus terus berkembang dan dinamis.

‎“Usia 81 tahun mengandung risiko besar, yakni menjerumuskan kita pada rutinitas yang berjalan biasa-biasa saja, kurang kreatif, dan minim inovasi. Kondisi seperti inilah yang paling mengancam keberadaan RRI sebagai media yang sejatinya harus selalu bersifat dinamis dan kreatif,” ujar Anwar dalam sambutan yang disampaikan secara daring, Jumat 11 September 2026.


‎Untuk menghadapi gelombang perubahan dan disrupsi, Anwar mendorong manajemen RRI mempelajari serta menerapkan strategi “Undetect Truth Leadership” melalui dua pendekatan yang harus berjalan secara bersamaan, yakni eksploitasi dan eksplorasi.

‎‎Ia menjelaskan, eksploitasi diperlukan untuk memastikan berbagai hal yang sudah berjalan baik di RRI tetap dipertahankan dan dikembangkan. Sementara eksplorasi dibutuhkan untuk melahirkan pembaruan, inovasi, serta terobosan baru.

‎“Eksploitasi menjamin keberlangsungan, eksplorasi membawa pembaruan. Keduanya sama-sama kita butuhkan dan saling melengkapi, harus berjalan beriringan,” katanya.

‎‎Dalam pendekatan eksploitasi, sejumlah langkah yang perlu diperkuat antara lain pelatihan UKW, upaya mengejar pencapaian status Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), penyesuaian kebijakan program dengan ketersediaan anggaran, serta penguatan program literasi membaca dan peningkatan indikator kuantitatif.

‎Sementara dalam pendekatan eksplorasi, RRI didorong meningkatkan kemampuan siber, mengembangkan strategi pemasaran lintas platform, serta memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses produksi dan penyebaran konten.

‎‎Selain itu, penelitian dan pengembangan program unggulan juga dinilai penting untuk memastikan RRI mampu menghadirkan konten yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.


‎‎Anwar juga menekankan pentingnya kebijakan anggaran yang mengikuti kebutuhan program, gerakan literasi mendengar, serta penguatan keberagaman, kearifan lokal, dan aspek kualitatif dalam setiap program yang dihasilkan RRI.

‎‎Ia menilai, transformasi tidak cukup hanya dilakukan melalui perubahan teknologi, tetapi juga membutuhkan perubahan pola pikir dan keberanian seluruh insan RRI untuk berinovasi.

‎‎Anwar kemudian mengibaratkan proses transformasi tersebut dengan kisah pewayangan tentang Tiwi Krama dari Batara Krisna, yang menurutnya menggambarkan transformasi diri secara menyeluruh dengan mengerahkan seluruh potensi lahir dan batin demi mencapai tujuan yang mulia.

‎“Dengan segala aset yang kita miliki, baik yang tampak maupun yang tidak, peluang kita untuk berkembang sebenarnya tak terbatas. Batasnya hanyalah kreativitas dan keberanian kita untuk berinovasi,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....