Mitra Netra Dorong Tunanetra Kenali Potensi dan Perluas Akses Kerja di Bandung

  • 09 Sep 2026 15:29 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Yayasan Mitra Netra mendorong penyandang tunanetra, khususnya lulusan perguruan tinggi, untuk mengenali dan mengembangkan potensi diri agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

‎Kepala Bagian Humas dan Ketenagakerjaan Yayasan Mitra Netra, Aria Indrawati, mengatakan, penyandang tunanetra memiliki potensi yang sangat luas. Namun, masih terdapat stigma di masyarakat yang menganggap tunanetra hanya dapat menempuh pendidikan khusus atau bekerja pada bidang tertentu.

‎“Potensinya sangat besar. Masyarakat sering terjebak dalam stigma bahwa penyandang tunanetra hanya belajar di pendidikan khusus atau luar biasa. Padahal, mereka memiliki potensi yang sangat luas. Kuncinya adalah mengajak mereka mengenali potensi tersebut, lalu mengasahnya hingga menjadi kompetensi yang nyata,” ujar Aria saat menghadiri Bandung Employment Forum For The Blind 2026 bertema Career Connect, Independent and Empowered di Hotel Grand Asrilia, Bandung, Rabu 9 September 2026.

‎Menurut Aria, salah satu contoh adalah seorang penyandang tunanetra yang sebelumnya memiliki latar belakang pendidikan guru sekolah dasar. Karena tidak menemukan lowongan pekerjaan yang sesuai, ia kemudian mengikuti pelatihan pemrograman yang diselenggarakan Mitra Netra saat pandemi COVID-19.

‎Dalam pelatihan tersebut, instruktur melihat kemampuan logika yang kuat dan bakat di bidang pemrograman. Setelah mengikuti proses seleksi, peserta tersebut dinyatakan lulus dan diterima bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan teknologi.

‎“Contohnya, ada staf pemrogram yang diceritakan Pak Agung, berlatar belakang pendidikan guru SD. Saat melamar kerja, tidak ada lowongan yang sesuai. Namun, ketika mengikuti pelatihan pemrograman yang kami selenggarakan pada masa pandemi, instruktur menilai ia sangat berbakat karena kemampuan logikanya kuat. Terbukti, ia lulus tes dan diterima bekerja,” katanya.

‎Aria menambahkan, peluang kerja bagi tunanetra tidak hanya terbatas pada bidang pendidikan. Mereka juga memiliki kesempatan berkarier di bidang penulisan, berbicara di depan publik, teknologi informasi, hukum, antropologi budaya, hingga berbagai profesi lainnya.

‎Ia mencontohkan seorang penyandang tunanetra yang bekerja di Kementerian Desa sebagai analis kebijakan. Pekerjaan tersebut bahkan mengharuskannya melakukan kunjungan lapangan dan sesuai dengan latar belakang pendidikan antropologi budaya.

‎“Padahal, mereka bisa menjadi pengacara, sarjana hukum, ahli antropologi budaya, dan profesi lainnya. Ada contoh penyandang tunanetra yang bekerja di Kementerian Desa sebagai analis kebijakan yang melakukan kunjungan lapangan,” ucapnya.

‎Aria menilai, persoalan utama yang masih dihadapi adalah stigma terhadap kemampuan penyandang tunanetra. Stigma tersebut bahkan tidak jarang memengaruhi kepercayaan diri penyandang tunanetra dalam menentukan pilihan pendidikan dan karier.

‎Ia menyebut, sebagian penyandang tunanetra masih diarahkan untuk mengambil jurusan pendidikan khusus atau menjadi guru ketika menempuh pendidikan di sekolah luar biasa.

‎“Potensinya sangat besar. Mereka hanya membutuhkan bantuan untuk menggali potensi yang terpendam dan mengembangkannya menjadi kemampuan nyata,” katanya.

‎Terkait jumlah penyandang tunanetra lulusan perguruan tinggi yang telah didampingi, Aria mengakui Mitra Netra belum memiliki data statistik yang terperinci berdasarkan wilayah.

‎Saat ini, data yang dimiliki masih berasal dari catatan kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi. Di antaranya terdapat sekitar 23 penyandang tunanetra dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), serta sejumlah lainnya dari perguruan tinggi mitra.

‎“Sebagian besar mengambil jurusan pendidikan khusus, namun kami yakin mereka memiliki potensi di bidang lain. Secara resmi, Mitra Netra belum memiliki data statistik wilayah. Kami masih memiliki catatan sporadis dari mitra perguruan tinggi yang kemudian kami rangkum,” jelasnya.

‎Sejak mulai menyalurkan tenaga kerja penyandang tunanetra pada awal 1990-an hingga saat ini, Mitra Netra mencatat sekitar 200 orang telah disalurkan ke berbagai pekerjaan, mulai dari operator telepon hingga programmer.

‎Namun, sebagian besar penyerapan tenaga kerja tersebut masih terjadi di wilayah Jakarta. Bandung menjadi salah satu wilayah yang kini mulai mendapat perhatian karena dinilai memiliki potensi lulusan tunanetra yang cukup besar, tetapi penyerapannya di dunia kerja masih minim.

‎“Belum mencapai angka ribuan karena menjalin kerja sama dengan perusahaan tidaklah mudah. Sejak tahun 2000, bahkan berawal dari awal 1990-an, mulai dari posisi operator telepon hingga pemrogram saat ini, jumlah yang telah kami salurkan mencapai sekitar 200 orang,” katanya.

‎Ia menambahkan, pihaknya belum dapat memastikan seluruh penyandang tunanetra yang belum terserap perusahaan sebagai pengangguran. Sebagian kemungkinan sudah bekerja, tetapi pekerjaan yang dijalani belum sesuai dengan keahlian maupun harapan mereka.

‎“Belum tentu menganggur. Mungkin mereka sudah bekerja, namun pekerjaannya belum sesuai dengan harapan atau keahlian yang dimiliki. Di sinilah peran Mitra Netra sebagai jembatan penghubung,” paparnya.

‎Sementara itu, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja (Penta) Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung, Deriksa Arifiaty Soewandana, mengatakan Bandung Employment Forum For The Blind 2026 menjadi bagian dari upaya memperluas peluang kerja bagi tunanetra lulusan perguruan tinggi.

‎“Forum ini sebagai bentuk komitmen untuk mengupayakan perluasan peluang kerja bagi tunanetra lulusan perguruan tinggi di Bandung,” ujarnya.

‎Menurutnya, dalam forum tersebut Mitra Netra juga menghadirkan sejumlah pembicara yang memberikan informasi mengenai potensi dan peluang tunanetra lulusan perguruan tinggi untuk bekerja di sektor formal.

‎Salah satu narasumber, Soniya Permata Surya, penyandang tunanetra sekaligus sarjana Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), turut membagikan pengalamannya dalam mengikuti seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS) melalui jalur afirmasi bagi penyandang disabilitas. ‎Soniya kini bekerja sebagai Pranata Siaran Pratama di RRI Kota Bandung.

Selain itu, terdapat pula karyawan tunanetra yang telah berkarier sebagai programmer maupun software tester yang turut berbagi pengalaman dalam forum tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....