Bandara Husein Kembali Beroperasi, Warga Diminta Waspadai Sisa Abu Vulkanik

  • 08 Sep 2026 14:54 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung kembali beroperasi pada Selasa 8 September 2026, setelah sebelumnya sempat terdampak sebaran abu vulkanik.

‎Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, operasional Bandara Husein Sastranegara menjadi bagian dari ekosistem penerbangan yang terintegrasi dengan Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Kertajati.

‎Menurutnya, pola kerja sama antarbandara tersebut telah berjalan efektif. Pada Senin 7 September 2026, sejumlah penerbangan dialihkan ke Bandara Kertajati sebagai bandara alternatif.

‎“Bandara Husein Sastranegara hari ini sudah kembali beroperasi sebagai bagian dari ekosistem penerbangan yang melibatkan Cengkareng, Halim, dan Kertajati. Kemarin banyak penerbangan dialihkan ke Kertajati sebagai cadangan. Konsep kerja sama antar bandara ini terbukti efektif dan didukung kajian ilmiah ITB,” ujar Farhan, Selasa 8 September 2026.


‎Farhan menyebut, kondisi permukaan Bandara Husein Sastranegara saat ini sudah bersih dari abu vulkanik. Kondisi udara di ketinggian juga dinilai relatif bersih.

‎‎Namun demikian, AirNav Indonesia masih mengeluarkan peringatan kepada penerbang untuk tetap waspada terhadap potensi keberadaan awan abu vulkanik di wilayah penerbangan.

‎‎“Sampai saat ini permukaan sudah bersih dari abu, di ketinggian juga terlihat bersih. Namun AirNav tetap mengeluarkan peringatan agar pilot tetap waspada adanya potensi awan abu di wilayah penerbangan melalui NOTAM pukul 04.00,” katanya.

‎‎Di sisi lain, kualitas udara di sejumlah wilayah Kota Bandung masih menunjukkan indikasi kurang sehat, terutama pada parameter partikulat halus atau PM2.5.

‎‎Farhan menjelaskan, tingginya kadar PM2.5 tersebut diduga berasal dari sisa abu vulkanik yang masih terdapat di lingkungan.

‎‎Sementara itu, sejumlah parameter polutan lainnya, seperti karbon monoksida (CO) dan nitrogen, masih berada dalam ambang batas aman.

‎‎“Masih terindikasi tidak sehat, khususnya parameter PM2.5 yang berasal dari sisa abu vulkanik. Sementara gas polutan lain, seperti CO dan nitrogen, berada di ambang batas aman. Ini berarti risiko utamanya adalah partikel debu mikroskopis,” jelasnya.


‎‎Berdasarkan pemantauan kualitas udara, Farhan mengatakan peningkatan terutama terjadi pada partikel debu mikroskopis yang bersumber dari abu vulkanik. Adapun emisi yang berasal dari kendaraan maupun aktivitas industri masih berada dalam kondisi baik.

‎‎Untuk mengurangi paparan abu vulkanik, penyemprotan di sejumlah lokasi sebelumnya telah dilakukan. Farhan menilai langkah tersebut cukup efektif sehingga tidak diperlukan penyemprotan ulang.

‎‎Meski demikian, lingkungan sekolah diminta segera dibersihkan dari sisa debu vulkanik yang masih menempel di halaman maupun fasilitas sekolah.

‎“Penyemprotan sudah dilakukan dan dinilai efektif, tidak perlu lagi diulang. Namun sekolah-sekolah diarahkan untuk segera membersihkan lingkungan dari debu sisa letusan,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....