Kota Bandung dan ITB Jadi Tuan Rumah OLYMPIAR, Wadah Cetak Talenta Unggul Geologi

  • 04 Sep 2026 16:01 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Kota Bandung bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan OLYMPIAR 2026, sebuah ajang kompetisi bagi mahasiswa yang berkecimpung di berbagai bidang ilmu geologi.

‎Kegiatan tersebut dinilai menjadi momentum penting untuk mematangkan sekaligus melahirkan talenta-talenta unggul di berbagai disiplin ilmu kebumian yang nantinya dapat berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

‎Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, penyelenggaraan OLYMPIAR 2026 di ITB menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kota Bandung. Terlebih, ITB merupakan salah satu perguruan tinggi tertua dan memiliki reputasi kuat dalam bidang sains dan teknologi di Indonesia.

‎“Alhamdulillah Kota Bandung kembali menjadi tuan rumah bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk program OLYMPIAR, sebuah ajang seperti olimpiade bagi mahasiswa yang berkecimpung di bidang ilmu geologi. Mencakup berbagai cabang, mulai dari geologi fisika hingga geodesi dan lainnya,” ujar Farhan usai menyampaikan opening speech pada Opening Roadshow OLYMPIAR 2026 di ITB, Jumat 4 September 2026.

‎Menurut Farhan, kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa Bandung memiliki ekosistem pendidikan dan akademik yang mampu mendukung kegiatan berskala nasional.

‎“Tentu kami sangat bangga bahwa Kota Bandung dan ITB dipercaya menjadi tempat untuk menjaring dan menguji talenta-talenta terbaik di bidang ilmu geologi di Indonesia,” katanya.

‎Sementara itu, Director Operations PT Agincourt Resources, Rahmat Lubis, mengatakan OLYMPIAR merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, khususnya dalam bidang pendidikan.

‎Ia menjelaskan, PT Agincourt Resources memiliki berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR yang mencakup pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, sosial, infrastruktur, dan bidang lainnya.

‎“Di pendidikan juga tentu ada banyak kegiatan, ada beasiswa, ada semacam bimbingan belajar ke sekolah-sekolah di daerah, dan juga program ini, program OLYMPIAR,” ucapnya.

‎Rahmat menjelaskan, OLYMPIAR merupakan pengembangan dari program sebelumnya yang dikenal dengan nama ECC (E-Coaching Jam). Program tersebut telah dilaksanakan sejak 2014 dengan menyasar mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

‎“Dulunya cikal bakal program ini kami sebut ECC, E-Coaching Jam. Sudah kami lakukan dari tahun 2014, di mana biasanya kami berkeliling kampus-kampus di Indonesia satu per satu. Sebagiannya offline, artinya kami datang ke kampus, sebagian lainnya online,” katanya.

‎Setelah melibatkan ribuan mahasiswa, penyelenggara kemudian melakukan evaluasi dan melihat perlunya pengembangan format kegiatan agar mahasiswa semakin tertarik dan termotivasi.

‎“Sesudah ada ribuan mahasiswa yang terlibat dalam E-Coaching Jam itu, kami merasa formatnya perlu di-upgrade agar teman-teman, adik-adik mahasiswa lebih bersemangat. Makanya dari sekadar coaching program, kami meng-upgrade-nya menjadi lomba, menjadi olimpiade,” jelasnya.

‎Menurutnya, perubahan format tersebut diharapkan dapat menghadirkan suasana kompetitif yang sehat sekaligus mendorong mahasiswa mengembangkan kemampuan akademik dan kerja sama tim.

‎Ketua MGEI, Rosalyn Wullandhary, mengatakan kolaborasi antara MGEI dan Agincourt Resources telah berkembang menjadi wadah nyata bagi mahasiswa untuk belajar, berinovasi, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan industri dan pembangunan Indonesia.

‎Pada OLYMPIAR 2026, tema yang diangkat adalah “Our Body: Two Ecosystems, Integrating Mining Performance and Environmental Resilience.”

‎Tema tersebut, kata Rosalyn, mengajak peserta melihat industri pertambangan secara lebih luas. Industri pertambangan tidak hanya berbicara mengenai lokasi wilayah kerja, jumlah sumber daya dan cadangan, maupun volume produksi.

‎“Lebih dari itu, kita harus meninjau seluruh rangkaian prosesnya, mulai dari cara eksplorasi, perancangan, pengolahan, pengelolaan, hingga pada akhirnya bagaimana melakukan reklamasi dan membangun ekosistem yang tangguh,” ujarnya.

‎Ia menekankan pentingnya mencetak generasi muda yang memiliki kemampuan lintas disiplin. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai ilmu kebumian atau pertambangan, tetapi juga perlu memahami keterkaitannya dengan teknologi, ekonomi, lingkungan, serta kepentingan masyarakat.

‎“Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya tangguh dalam ilmu kebumian atau pertambangan, tetapi juga mampu berpikir secara terpadu, mengaitkan ilmu kebumian, pertambangan, pengolahan, teknologi, ekonomi, lingkungan, dan kepentingan masyarakat,” katanya.

‎Rosalyn pun berpesan kepada seluruh peserta OLYMPIAR 2026 agar tidak memandang wilayah kerja pertambangan hanya sebagai tempat untuk melakukan kegiatan industri.

‎“Wilayah kerja kita bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari sebuah ekosistem,” tegasnya.

‎Menurutnya, melalui ajang tersebut mahasiswa tidak hanya dituntut menguji kemampuan akademiknya, tetapi juga belajar menghadapi persoalan nyata, bekerja sama dalam tim, berpikir kritis, serta merumuskan solusi terhadap berbagai tantangan.

‎Ia meyakini peserta OLYMPIAR 2026 dapat menjadi calon ahli eksplorasi, pemimpin industri pertambangan, peneliti, pakar lingkungan, pemimpin perusahaan, hingga pembuat kebijakan yang akan menentukan arah industri mineral Indonesia di masa depan.

‎“Namun, untuk mewujudkan masa depan yang kokoh, kolaborasi adalah kunci. Dunia industri membutuhkan dunia akademik, dunia akademik membutuhkan industri, pengalaman membutuhkan inovasi, dan inovasi memerlukan ruang penerapan,” ucapnya.

‎Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Sumber Daya ITB, Dasapta Erwin Irawan, menilai kegiatan OLYMPIAR memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa ilmu geologi memiliki cakupan dan nilai ekonomi yang luas.

‎Ia menjelaskan, geologi ekonomi tidak hanya berkaitan dengan mineral. Berbagai bidang seperti air tanah, geologi teknik, hidrogeologi, dan cabang ilmu geologi lainnya juga memiliki nilai ekonomi dan manfaat yang besar bagi kehidupan masyarakat.

‎“Geologi ekonomi tidak hanya berkaitan dengan hal mineral semata. Kepada adik-adik yang hadir di ruangan ini, perlu saya sampaikan bahwa bidang yang saya tekuni, yakni air tanah, juga memiliki nilai ekonomi. Demikian pula dengan geologi teknik, hidrogeologi, dan bidang sejenisnya,” katanya.

‎Ia juga mengingatkan agar pemahaman terhadap ilmu geologi tidak hanya dikaitkan dengan kegiatan pertambangan mineral.

‎“Intinya, seluruh cabang ilmu geologi memiliki nilai ekonomi masing-masing,” katanya.

‎Dasapta menilai OLYMPIAR menjadi kegiatan positif karena dapat mendorong mahasiswa keluar dari batas kemampuan yang selama ini mereka rasakan.

‎Menurutnya, mahasiswa harus berani mencoba tantangan baru agar dapat mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimiliki dan terus mengembangkannya.

‎“Tidak ada salahnya berusaha sekuat tenaga. Batas kemampuan itu harus kita coba, kita lewati, dan kita taklukkan agar terus berkembang,” ucapnya.

‎Ia menambahkan, studi kasus yang diberikan dalam OLYMPIAR juga menjadi lebih konkret karena memadukan berbagai aspek, mulai dari eksplorasi, eksploitasi, hingga tahapan pascakegiatan.

‎Keragaman latar belakang peserta dari berbagai jurusan dan perguruan tinggi juga dinilai dapat memperkaya proses pembelajaran. Mahasiswa dapat saling bertukar pengetahuan sesuai bidang keahlian masing-masing, baik fisika, kimia, geologi, maupun disiplin ilmu lainnya.

‎“Hal ini memudahkan pertukaran wawasan. Yang kurang menguasai fisika bisa bertukar pikiran dengan yang lebih paham bidang itu, begitu pula dengan kimia dan lainnya,” katanya.

‎Selain kemampuan akademik dan teknis, Dasapta menilai OLYMPIAR juga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran mahasiswa terhadap dampak sosial dan lingkungan dari setiap aktivitas industri.

‎Kasus-kasus yang dikaji dalam olimpiade tersebut diharapkan dapat membuka pemahaman mahasiswa bahwa di balik angka, model, penampang, maupun visualisasi tiga dimensi, terdapat aspek manusia dan lingkungan yang harus dipertimbangkan.

‎“Ke depannya, Anda, termasuk kami yang sudah bekerja di bidang ini, senantiasa akan menghadapi timbangan antara nilai ekonomi dengan kelestarian lingkungan, serta peluang dihadapkan pada risiko,” katanya.

‎Ia menegaskan, aspek ekonomi dan kelestarian lingkungan merupakan dua hal yang akan selalu beriringan dalam pengembangan industri.

‎“Dua sisi ini akan selalu ada. Sebagai peserta dan mahasiswa, jadikanlah ini bekal kesadaran bahwa setiap langkah senantiasa membutuhkan pertimbangan dan pilihan yang bijak,” tandasnya.

‎

‎

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....