Hujan Buatan Belum Bisa Dilaksanakan di Jawa Barat, Minim Awan Jadi Kendala

  • 31 Agt 2026 11:28 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID,Bandung - Upaya menghadirkan hujan buatan di Jawa Barat belum dapat dilakukan meski musim kemarau diprediksi mencapai fase terkering pada September–Oktober 2026. Kendala utama bukan hanya kondisi cuaca kering, melainkan minimnya awan yang bisa dimodifikasi.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menjelaskan pelaksanaan modifikasi cuaca membutuhkan awan dengan potensi memadai. Saat ini, potensi awan pembawa hujan di wilayah Jawa Barat masih di bawah 30 persen. “Kami harus menunggu awan terkumpul dulu baru bisa melaksanakan hujan buatan. Kalau belum cukup, belum bisa dilakukan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima RRI, Senin 31 Agustus 2026.

Situasi ini menjadi tantangan di tengah pengaruh El Nino kategori sangat kuat. BMKG memperkirakan puncak musim kemarau berlangsung Agustus hingga Oktober, dengan sejumlah daerah berpotensi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan normal.

Meski demikian, hujan lokal tetap mungkin terjadi apabila atmosfer mendukung pertumbuhan awan konvektif. “Wilayah Bandung tetap masuk Zona Musim yang jelas, sehingga hujan lokal sesekali turun masih terbilang wajar,” tambah Suaidi.

Data atmosfer periode 24–30 Agustus menunjukkan suhu permukaan laut relatif hangat, kelembapan udara di lapisan atas 30–95 persen, serta labilitas atmosfer bervariasi. Faktor tersebut membuka peluang hujan lokal, meski tidak merata di seluruh wilayah Jawa Barat.

Catatan Stasiun Geofisika Bandung memperlihatkan suhu maksimum 1–26 Agustus mencapai 32,6 derajat Celsius, lebih tinggi dibandingkan Juli yang tercatat 31,8 derajat Celsius. Kenaikan suhu dan minimnya hujan mempercepat berkurangnya ketersediaan air, terutama di daerah dengan cadangan terbatas.

Dampak kemarau telah dirasakan di Bogor, Garut, Sukabumi, dan Bekasi. Di Kabupaten Bogor, distribusi bantuan air bersih mencapai 7–9 juta liter untuk masyarakat yang kesulitan mendapatkan air. Kondisi ini menegaskan persoalan kemarau bukan sekadar suhu udara, tetapi juga menyangkut kebutuhan dasar warga.

Suaidi mengimbau pemerintah daerah memperkuat cadangan air bersih sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak kemarau. Selain itu, risiko kebakaran lahan perlu diwaspadai. “Kami menemukan jejak pembakaran lahan di sekitar Tol Cisumdawu. Mohon hal itu tidak diulang lagi,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....