Pemkot Bandung Identifikasi Tiga Peluang Investasi di Bidang Lingkungan

  • 28 Agt 2026 10:34 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengidentifikasi tiga peluang investasi di bidang lingkungan yang dinilai penting untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Ketiga sektor tersebut meliputi pengelolaan sampah, peningkatan pengelolaan air bersih, serta peningkatan kualitas udara.

‎Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, ketiga sektor tersebut menjadi prioritas karena sejalan dengan ambisi Kota Bandung untuk menurunkan emisi gas buang dan efek rumah kaca hingga 22 persen pada 2035.

‎"Beberapa peluang investasi di bidang lingkungan itu, pertama pengelolaan sampah. Kedua, peningkatan pengelolaan air bersih, dan ketiga peningkatan investasi dalam peningkatan kualitas udara," ujar Farhan usai penyerahan laporan Climate Investment Opportunities Diagnostic yang disusun International Finance Corporation (IFC) melalui program APEX Green Cities di Balai Kota Bandung, Jumat 28 Agustus 2026.

‎Menurut Farhan, kajian tersebut merupakan hasil kerja sama yang melibatkan Pemerintah Inggris dan IFC, yang merupakan bagian dari kelompok Bank Dunia. Sebelumnya, IFC juga telah melakukan sejumlah kajian untuk Kota Bandung, salah satunya terkait pengembangan sport tourism center di kawasan Gedebage.

‎"Penelitiannya sudah selesai. Maka nanti Bapperida berdasarkan penelitian itu akan mengusulkan beberapa kebijakan yang akan disesuaikan dengan RPJMD dan juga akan disesuaikan dengan RPJPD," katanya.

‎Farhan menilai, sektor air bersih masih menjadi tantangan bagi Kota Bandung. Saat ini, sumber air untuk kebutuhan air bersih masih banyak mengandalkan air tanah. Sementara itu, potensi air baku yang berasal dari sungai belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

‎Ia berharap kajian tersebut dapat menghasilkan solusi untuk meningkatkan pemanfaatan sumber air baku sungai di Kota Bandung.

‎"Kita baru bisa investasi di sarana air bersih, tapi itu masih menggunakan air tanah. Sedangkan sumber air baku dari sungai kita belum bisa memanfaatkan sama sekali. Nah, ini kita harapkan ada penelitian di sini," ucapnya.

‎Farhan mencontohkan Sungai Cikapundung yang secara konsep dapat menjadi salah satu sumber air baku apabila kualitas air dan sistem pengelolaannya telah memenuhi persyaratan.

‎"Kebayang kita mengambil air minum dari Cikapundung? Masih serem ya, itu. Tapi harusnya bisa," katanya.

‎Selain air bersih, pengelolaan sampah juga menjadi perhatian serius. Farhan menyebut, investasi pengelolaan sampah di Kota Bandung hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, penanganan sampah yang dilakukan saat ini masih lebih banyak bersifat reaktif dan responsif.

‎"Sementara ini yang kita lakukan sekarang bukan investasi terhadap pengelolaan sampah. Kita lebih banyak melakukan penanganan sampah saja, yang bentuknya juga lebih ke reaktif dan responsif, bukan perencanaan jangka panjang," jelasnya.

‎Melalui hasil kajian IFC, Pemkot Bandung berharap dapat memperoleh berbagai gagasan baru dalam pengelolaan sampah, tidak hanya mengandalkan teknologi pengolahan sampah skala besar di hilir seperti Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), tetapi juga memperkuat pengelolaan sampah dari hulu.

‎"Harapannya dari penelitian ini kita bisa mendapatkan berbagai macam ide, tidak hanya PSEL yang jumlahnya besar di hilir, tetapi juga pengelolaan sampah di hulu yang sifatnya pengelolaan sampah per wilayah dalam skala-skala kecil sampai menengah," tuturnya.

‎Salah satu langkah yang tengah dikembangkan Pemkot Bandung adalah peningkatan kapasitas pengelolaan sampah menggunakan maggot di Gedebage menjadi fasilitas Solid Recovered Fuel (SRF).

‎"Yang kita coba ini yang pertama bersama dengan Kemenristek dan Danantara adalah peningkatan kapasitas pengelolaan sampah maggot yang di Gedebage menjadi pengelolaan sampah SRF. SRF itu bentuk lebih canggih dari RDF," tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....