Harga Daging Ayam Tembus 40 Ribu, Pemkot Bandung Telusuri Rantai Pasok

  • 27 Agt 2026 18:22 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memastikan pasokan pangan secara umum masih dalam kondisi aman. Namun, kenaikan harga daging ayam menjadi perhatian karena komoditas tersebut merupakan salah satu sumber protein utama bagi masyarakat.

‎‎Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, dari sejumlah komoditas pangan yang dipantau, daging ayam menjadi komoditas yang mengalami persoalan harga paling menonjol. Saat ini, harga daging ayam bahkan telah menembus lebih dari Rp40.000 per kilogram.

‎“Yang bermasalah saat ini harus diakui adalah harga daging ayam. Daging ayam ini penting karena daging ayam adalah sumber protein kedua terbesar untuk warga Kota Bandung setelah telur ayam,” ujar Farhan, Kamis 27 Agustus 2026.



‎Farhan menyebutkan, harga telur ayam hingga kini masih relatif terjaga. Sementara itu, kenaikan harga daging ayam diduga berkaitan dengan persoalan distribusi di tingkat hulu.
‎‎Untuk memastikan penyebab kenaikan tersebut, Farhan telah menginstruksikan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung untuk menelusuri rantai pasok daging ayam.
‎‎“Saya sudah memerintahkan kepada Dinas Perdagangan dan Perindustrian untuk melacak kenapa daging ayam bisa naik sampai di atas harga Rp40.000,” katanya.
‎‎Menurut Farhan, kenaikan harga ayam mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Warga yang sebelumnya dapat mengonsumsi ayam setiap hari kini harus mengurangi frekuensi pembelian.
‎‎“Kelihatan banyak yang mengangguk-angguk di sini karena tiba-tiba yang biasanya tiap hari bisa makan ayam, sekarang seminggu tiga kali. Jadi kita akan upayakan supaya ayam bisa terjangkau lagi harganya,” ucapnya.
‎‎Untuk komoditas lainnya, Farhan memastikan ketersediaan beras di Kota Bandung masih aman. Ia mengingatkan, kondisi stok beras perlu dilihat secara keseluruhan, termasuk pasokan yang dijamin melalui Bulog.
‎‎Menurutnya, Bulog memiliki tanggung jawab terhadap sekitar 30 persen distribusi beras. Pasokan tersebut dipastikan dapat diakses oleh masyarakat Kota Bandung.
‎‎“Sekitar 30 persen beras ini dijamin oleh Bulog akan bisa didapatkan untuk semua warga Kota Bandung. Tetapi jangan memilih kualitasnya. Kalau mau memilih kualitasnya, ikut mekanisme pasar,” katanya.
‎‎Farhan menjelaskan, masyarakat yang menginginkan beras dengan kualitas tertentu harus mengikuti mekanisme pasar karena tidak seluruh jenis beras berada dalam skema distribusi yang dijamin Bulog.
‎‎Selain beras, kebutuhan pangan Kota Bandung juga dipasok dari berbagai daerah di luar kota. Farhan menyebut sekitar 16 provinsi menjadi pemasok kebutuhan pangan masyarakat Kota Bandung.
‎‎“Pasokan-pasokan lainnya dari luar kota ada 16 provinsi yang memasok ke Kota Bandung, yang sekarang agak tersendat hanya masalah daging ayam saja,” katanya.
‎‎Sementara itu, terkait daging sapi, Farhan menyebut Pemkot Bandung akan mengikuti arahan pemerintah pusat untuk mendorong penguatan pasokan dari dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.



‎Ia mengungkapkan, sekitar 98 persen kebutuhan daging sapi di Kota Bandung saat ini masih berkaitan dengan pasokan impor, baik dari sisi pembibitan maupun daging beku.
‎‎“Kalau pangan lainnya, seperti arahan Presiden, kita akan membantu mendorong agar yang namanya daging sapi tidak impor lagi,” tuturnya.
‎‎Farhan menegaskan, Pemkot Bandung akan terus memantau harga dan ketersediaan bahan pangan, terutama komoditas yang berpengaruh langsung terhadap pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
‎“Memantau kondisi harga dan ketersediaan bahan pangan, terutama komoditas yang berpengaruh langsung terhadap pemenuhan kebutuhan gizi,” tandasnya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....