Pedagang Cicaheum Bongkar Lapak Sendiri, Kompensasi Digunakan Pindah Usaha

  • 26 Agt 2026 13:18 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pembangunan depo Bus Rapid Transit (BRT) di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, mulai dilakukan. Sejumlah lapak pedagang yang terdampak pembangunan depo tersebut pun mulai dibongkar. ‎Salah seorang pedagang Terminal Cicaheum, Nurjaman, mengaku telah menerima kompensasi dari pemerintah sebesar Rp6 juta.

Uang tersebut rencananya digunakan untuk membantu biaya memindahkan usaha dan memenuhi kebutuhan selama proses penataan kawasan.

‎"Tergantung ukuran tempatnya. Saya mendapat Rp6 juta. Sudah terbayar. Makanya uang itu saya gunakan untuk pindah tempat," ujar Nurjaman, Rabu 26 Agustus 2026.

‎Nurjaman mengatakan, pencairan kompensasi dilakukan setelah sebelumnya pedagang menerima pemberitahuan tertulis. Pemerintah juga telah beberapa kali menggelar rapat sosialisasi dan koordinasi terkait pembangunan depo BRT di Terminal Cicaheum.

‎Ia menuturkan, para pedagang memilih membongkar lapaknya secara mandiri. Selain mempermudah proses pembangunan, cara tersebut memungkinkan pedagang menyelamatkan barang-barang milik mereka yang masih dapat digunakan.

‎"Kami bongkar sendiri, karena barang-barang milik kami juga kami ambil sendiri. Semua barang dagangan dan barang-barang lain yang berharga semuanya bisa kami bawa," katanya.

‎Nurjaman mengaku telah berjualan batagor dan baso tahu di kawasan Terminal Cicaheum selama 26 tahun. Untuk sementara, ia belum memutuskan untuk pindah ke lokasi usaha baru secara permanen dan memilih tetap berjualan secara keliling di sekitar kawasan Cicaheum.

‎"Jualan batagor dan baso tahu. Sudah 26 tahun. Bukan pindah ke tempat baru yang tetap, tetap jualan keliling dulu," ucapnya.



‎Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah menyediakan sejumlah lokasi alternatif bagi para pedagang yang terdampak. Salah satunya berada di Terminal Leuwipanjang yang memiliki sejumlah kios yang masih kosong.

‎"Sudah disediakan tempat alternatif. Banyak pilihan tempatnya. Misalnya di Leuwipanjang lantai 1 dan lantai 2, banyak kios yang masih kosong. Kalau mau jualan di sana, banyak tempat yang sudah disiapkan pemerintah," katanya.

‎Meski demikian, Nurjaman berharap dapat tetap menjalankan usahanya di sekitar Cicaheum. Ia mengaku telah lama tinggal di kawasan tersebut bersama keluarganya sehingga perpindahan lokasi usaha yang terlalu jauh akan menyulitkan.

‎"Bagi saya sendiri, saya sudah tinggal di sini lama. Seluruh keluarga, anak dan cucu semua berdomisili di sini. Usaha pun sebaiknya tetap di sekitar sini, tidak bisa berjualan terlalu jauh," tuturnya.

‎Karena itu, meski kondisi lapaknya mulai dibongkar untuk pembangunan depo BRT, Nurjaman memilih tetap berjualan di sekitar kawasan tersebut sembari menata kembali usahanya secara bertahap.

‎Ia juga berharap kompensasi yang diberikan dapat membantu keberlangsungan hidup para pedagang terdampak. Namun, ia menyadari bahwa sebagai pedagang kecil, dirinya tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

‎"Kalau bisa, kompensasi yang diberikan cukup untuk hidup, supaya tidak perlu bekerja keras tiap bulan. Itu harapan saya. Tapi ya mana bisa, namanya orang biasa tetap harus berusaha mencari nafkah," katanya.

‎Nurjaman mengaku akan menerima pembangunan depo BRT dan mendukung program pemerintah tersebut. Menurutnya, keputusan pembangunan berada di tangan pemerintah sehingga para pedagang hanya dapat menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.

‎"Ya harus ikhlas dan mendukung. Mau bagaimana lagi," ucapnya.

‎Ia bahkan berkelakar, jika memiliki cukup uang, dirinya ingin membeli lahan yang akan digunakan untuk proyek BRT agar kawasan tersebut tetap menjadi tempat berjualan para pedagang.

‎"Kalau saya punya uang, saya mau beli lahan proyek BRT itu sendiri, supaya tidak dibangun dan tetap jadi tempat jualan kami. Tapi saya tidak punya uang. Uang untuk makan sehari-hari saja pas-pasan, menutup lubang gali lubang," tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....