BUMD Sehat dan Tidak Sehat Digabung, Deni: Bisa Untung Asalkan Pengelolaan Tepat

  • 24 Agt 2026 14:17 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Rencana pembentukan holding Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Barat melalui PT Sangga Buana dinilai perlu disertai pembenahan menyeluruh. Hal itu terutama menyangkut BUMD yang selama ini berada dalam kondisi tidak sehat dan terus mengalami kerugian.

‎Pengamat Ekonomi Universitas Insan Cendekia Mandiri (UICM) Bandung, Deni Rizky, mengatakan BUMD yang terus merugi berpotensi menjadi beban pemerintah daerah karena membutuhkan suntikan dana melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

‎“Ketika misalkan di situ ada BUMD yang memang tadi tidak sehat, misalkan selalu rugi, tentunya itu akan membebankan kepada daerah. Karena ketika dia rugi, dia akan disuntik terus melalui APBD. Nah, itu kan membebankan,” kata Deni, Senin 24 Agustus 2026.


‎Menurutnya, BUMD seharusnya mampu memberikan kontribusi terhadap daerah melalui keuntungan dan dividen yang kemudian menjadi bagian dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).

‎“Harusnya itu kan ada dividen buat daerah. Nanti ada pendapatan buat daerah yaitu PAD. Jangan sampai ketika dia tidak sehat dan dia malah merugi terus dan selalu disuntik dananya oleh APBD, nah ini yang menjadi permasalahan,” ujarnya.

‎Terkait rencana holding melalui PT Sangga Buana, Deni menilai penggabungan BUMD sehat dan tidak sehat masih dapat memberikan dampak positif apabila dilakukan dengan pengelolaan yang tepat.

‎Menurutnya, BUMD yang masuk ke dalam holding perlu mendapatkan pembenahan dari sisi manajemen maupun keuangan. Audit juga harus dilakukan secara menyeluruh agar kondisi masing-masing BUMD dapat diketahui dan ditangani sesuai permasalahannya.

‎“Ketika yang masuk ke sana itu memang BUMD-BUMD yang sehat dan masuk juga BUMD yang tidak sehat, ketika pengelolaannya itu baik, mulai manajemennya seperti apa, itu dirombak dengan betul-betul, audit keuangannya ini harus dirombak dengan betul,” tuturnya.


‎Namun, Deni mengingatkan pembentukan holding tidak akan otomatis membuat BUMD yang tidak sehat menjadi sehat. Menurutnya, keberhasilan holding sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia dan tata kelola yang diterapkan.

‎“Tetapi kalau misalkan tetap orang-orangnya yang tidak berkompeten yang di sana, audit keuangannya tidak dengan baik, keuangannya tidak dirombak dengan baik, orang-orangnya tidak yang berkompeten, tentunya ini sia-sia. Akan sia-sia dengan adanya holding ini,” katanya.

‎Deni menilai tujuan pembentukan holding seharusnya dapat mengurangi beban pemerintah daerah. Sebab, BUMD idealnya menjadi sumber pendapatan bagi daerah, bukan justru terus bergantung pada APBD.

‎“Tujuannya sudah bagus dengan ada holding ini, pertama sebetulnya mengurangi beban daerah. Yang tadinya BUMD ini kan harusnya menjadi solusi, menjadi penambah PAD, ini menjadi beban daerah sebetulnya,” ucapnya.

‎Ia juga menyoroti kondisi BUMD di Jawa Barat yang memiliki banyak anak perusahaan. Menurut Deni, ekspansi melalui pembentukan anak perusahaan jangan sampai justru membuat BUMD kehilangan kemampuan menghasilkan keuntungan dan dividen bagi daerah.

‎“Karena BUMD di Jawa Barat itu banyak anak-anaknya dan ketika misalkan dia untung, bikin anak perusahaan-anak perusahaan lagi. Akhirnya tidak ada untungnya, yang tadi tidak ada dividen untuk daerah melalui PAD,” ujarnya.

‎Karena itu, Deni meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama DPRD Jabar menyiapkan rencana holding secara matang. Pembenahan, kata dia, harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari standar operasional prosedur (SOP), audit keuangan hingga manajemen.

‎“Jadi ketika misalkan ada solusi ini, tentunya harus dipersiapkan dari pemerintahan, baik itu DPRD Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Harus disiapkan dengan baik. Harus dirombak secara keseluruhan, harus tahu SOP-nya seperti apa,” katanya.

‎Deni menambahkan, pembenahan tersebut dapat membuka peluang bagi BUMD untuk meningkatkan kinerja ke depan. Namun, apabila pola pengelolaan lama tetap dipertahankan, holding dinilai tidak akan menyelesaikan persoalan.

‎“Manajemennya harus dirombak dengan baik. Tentunya ini akan menjadi mungkin ke depannya akan lebih baik. Tapi kalau misalkan pengelolaannya begitu-begitu saja, tidak ada kepastian untuk untung, ya mau sampai kapan pun juga apa pun solusinya kalau tidak dikerjakan dengan baik menurut saya akan sia-sia,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....