IIBF Perkuat Peran sebagai Mitra Pemerintah dan Sensor Ekonomi Nasional

  • 20 Agt 2026 17:36 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung Barat - Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) menegaskan arah baru organisasinya pada Silaturahmi Nasional (Silatnas) ke-17 yang berlangsung di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), 20–22 Agustus 2026.

Memasuki usia 17 tahun, IIBF tidak ingin hanya dikenal sebagai forum berkumpulnya para pengusaha. Organisasi ini mulai memperkuat fondasi kelembagaan agar dapat berperan lebih jauh sebagai mitra strategis pembangunan sekaligus wadah yang mampu membaca persoalan ekonomi dari sisi pelaku usaha.

Ketua sekaligus Presiden IIBF Heppy Trenggono mengatakan, penguatan kelembagaan menjadi bagian penting dari perjalanan IIBF ke depan. Dua hal yang menjadi perhatian utama adalah pembenahan tata kelola organisasi dan pengembangan metodologi yang lebih sistematis serta terukur.

Menurutnya, pengalaman selama 17 tahun telah membentuk IIBF sebagai ruang pendidikan sekaligus pembinaan kader pengusaha. Tahap berikutnya adalah memastikan proses tersebut mampu menghasilkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

"Tema IIBF ini, sebagai organisasi bertaraf Institusional dan tata kelola, IIBF sudah 17 tahun ingin berdampak luas. Disini tempat pendidikan para kader, tempat kebangkitan para kader. Kita punya metodologi yang mungkin tidak bisa dilihat di tempat lain, jadi kita buat tata kelola yang lebih rapi, metodologi yang lebih jelas," kata Heppy, Kamis 20 Agustus 2026.

Ia menegaskan, IIBF mengambil posisi sebagai sensor ekonomi yang dapat menyampaikan kondisi riil dunia usaha kepada pemerintah. Organisasi tersebut juga ingin menjadi mitra berpikir pemerintah, terutama dalam melihat persoalan ekonomi yang tidak selalu tercermin dari angka pertumbuhan nasional.

Heppy menyoroti adanya kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi dengan kondisi masyarakat lapisan bawah. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang berada di atas 5 persen belum otomatis membuat seluruh kelompok masyarakat merasakan manfaat yang sama. "Kredit perbankan melonjak tinggi untuk korporasi, sementara penyaluran ke UMKM hanya 0,12 persen, konsumsi meningkat, namun tabungan masyarakat justru merosot," ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjut Heppy, menjadi salah satu hal yang perlu mendapatkan perhatian serius. IIBF akan menyampaikan temuan dan pandangannya kepada pemerintah tanpa terikat kepentingan politik tertentu.

"IIBF tidak akan pernah menjadi relawan siapa pun yang berkompetisi, tetapi IIBF akan selalu menjadi mitra pembangunan bagi pemerintah dengan cara memberikan masukan-masukan yang jujur," tegasnya.

Semangat tersebut juga diwujudkan melalui gerakan Beli Indonesia. Bagi IIBF, gerakan tersebut bukan hanya ajakan menggunakan produk lokal, melainkan upaya memperkuat perputaran ekonomi di dalam negeri. Para pengusaha yang tergabung di IIBF didorong untuk tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga menjadi konsumen yang mengutamakan produk karya sesama anak bangsa.

Sementara itu, Ketua Panitia Silatnas ke-17 IIBF Hanum Sujana mengatakan, pembeda utama IIBF dengan organisasi pengusaha lainnya berada pada aspek pembangunan karakter. IIBF tidak hanya membekali anggota dengan kemampuan menjalankan bisnis, tetapi juga berupaya membentuk pengusaha yang memiliki kekayaan sekaligus ketakwaan serta mampu menjalankan bisnis dengan standar profesional dan nilai-nilai Islam.

"Kita fokus membangun pengusahanya. Karena bisnis itu tidak akan melampaui pertumbuhan pebisnisnya. Kalau pebisnisnya bertumbuh, bisnisnya juga akan bertumbuh. Basis anggota yang cukup kuat berada di Jawa Timur dan Lampung. Dalam proses pendampingan, IIBF menerapkan lima sistem dukungan, yakni keluarga, guru bisnis, guru spiritual, rekan seperjuangan, dan kelompok mastermind,” kata Hanum.

Hanum menyebut pendekatan tersebut telah membantu sejumlah anggota menghadapi persoalan bisnis dan keuangan, termasuk mereka yang sebelumnya memiliki beban utang dalam jumlah besar. Perubahan pola pikir dan dukungan jaringan menjadi bagian dari proses pemulihan usaha para anggota.

Di Jawa Barat, geliat keanggotaan IIBF juga disebut terus meningkat. Ketua DPW IIBF Jawa Barat Jaja Mujahid mengatakan tekanan ekonomi dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor membuat semakin banyak pelaku usaha mencari ruang untuk bertukar pengalaman dan mencari solusi.

"Ketika ekonomi lagi perlambatan, jangan berdiam diri. Berkumpul itu menjadi sebuah solusi, karena ada transfer energi dan gagasan. Keluar dari zona nyaman, mari kita diskusikan jalan keluarnya," ujarnya.

Jaja menambahkan, berbagai kegiatan pembinaan tersebut dilakukan berbasis komunitas dan tidak dibebankan biaya keanggotaan, sehingga para pelaku usaha dapat memperoleh ruang belajar sekaligus membangun jejaring.

Melalui penguatan kelembagaan tersebut, IIBF menargetkan visi Institutional Great Organization dapat diwujudkan. Dengan demikian, IIBF tidak berhenti sebagai komunitas pembelajaran bisnis, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial-ekonomi yang ikut mendorong pemerataan kesejahteraan dari tingkat akar rumput.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....