Fiersa: Kibarkan Merah Putih di Puncak Kilimanjaro, Rasakan Makna Kemerdekaan

  • 19 Agt 2026 22:38 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Musisi sekaligus konten kreator Fiersa Besari mengaku merasakan pengalaman emosional saat mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Uhuru, Gunung Kilimanjaro, Afrika. Momen tersebut menjadi semakin bermakna karena dilakukan di salah satu puncak tertinggi di dunia, bertepatan dengan semangat peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.

‎Fiersa mengatakan, pendakian Gunung Kilimanjaro sebenarnya telah dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Namun, kisah perjalanan tersebut baru disiarkan menjelang momentum peringatan kemerdekaan Indonesia.

‎Menurutnya, kata “kemerdekaan” terasa begitu sakral ketika ia mengibarkan Sang Merah Putih di puncak benua Afrika.

‎“Rasanya sungguh mengharukan. Apalagi saat mengibarkan bendera Indonesia di atas puncak benua Afrika. Puncak Uhuru itu artinya kemerdekaan,” ujar Fiersa Besari saat ditemui usai acara nonton bareng ekspedisi puncak Kilimanjaro dalam acara Eksklusif Bersama Fiersa Besari di Arei Flagship Experience Store Cihampelas, Bandung, Rabu 19 Agustus 2026.

‎Fiersa mengaku, momen tersebut membuatnya kembali merefleksikan kecintaannya terhadap Indonesia. Menurutnya, meski masih banyak kekurangan dan kebijakan pemerintah yang perlu dikritisi, hal tersebut tidak mengurangi rasa cintanya terhadap Tanah Air.

‎“Saat mengibarkan Sang Merah Putih, timbul perasaan: negara ini memang masih banyak kekurangan, masih banyak yang harus dikritisi, namun cinta Tanah Air tetap besar. Di situ saya menyadari bahwa mengkritik kebijakan justru tanda kita peduli dan mencintai negara ini,” katanya.

‎Ia menuturkan, pendakian Kilimanjaro menjadi pengalaman yang penuh tantangan. Untuk pertama kalinya, Fiersa mendaki gunung dengan ketinggian hampir 6.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

‎Perjalanan tersebut membuatnya merasakan berbagai emosi, mulai dari semangat hingga hampir menyerah karena kondisi fisik dan kemungkinan gagal mencapai puncak.

‎“Karena ini pertama kalinya saya mendaki setinggi itu, hampir 6.000 mdpl, perasaannya benar-benar campur aduk. Ada saat-saat saya hampir menyerah, ada kemungkinan gagal di tengah jalan,” ungkapnya.

‎Fiersa menegaskan, pendakian tersebut dilakukan dengan persiapan matang. Ia mengingatkan pendaki agar tidak memaksakan diri ketika menghadapi kondisi ekstrem di ketinggian.

‎“Jangan sampai nekat. Pendakian dilakukan dengan persiapan medis, sudah minum obat penyesuaian ketinggian, dan didampingi dokter. Dengan segala persiapan itu barulah saya berani melanjutkan sampai ke puncak,” ujarnya.

‎Namun, Fiersa belum dapat menceritakan secara lengkap mengenai keberhasilannya mencapai puncak karena kisah ekspedisi tersebut masih dalam tahap perilisan.

‎Di balik petualangannya menjelajahi berbagai gunung di dunia, Fiersa mengatakan keluarga tetap menjadi alasan utamanya untuk kembali ke rumah.

‎Ia menyebut istri dan anak-anaknya sebagai “jangkar” dalam setiap perjalanan panjang yang dilakukan.

‎“Setiap kali mendaki ke ujung dunia, merekalah alasan utama saya ingin pulang. Mereka juga orang pertama yang mendengar cerita lengkap sebelum orang lain,” katanya.

‎Menurut Fiersa, keindahan alam dan pengalaman menjelajahi berbagai negara tidak akan pernah menggantikan rasa nyaman berada di rumah bersama keluarga.

‎“Sebesar apa pun keindahan negara lain, setinggi apa pun gunung di luar sana, tetap saja rumah adalah tempat terindah. Rindu keluarga tidak tergantikan apa pun,” tuturnya.

‎Fiersa menjelaskan, Gunung Kilimanjaro merupakan salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia yang relatif lebih mudah dijangkau. Meski demikian, pendakian tersebut tetap memiliki tantangan yang tidak bisa diremehkan.

‎Salah satunya adalah perjalanan panjang dengan jarak sekitar 73 kilometer. Kondisi tubuh yang belum terbiasa dengan ketinggian juga dapat memicu berbagai risiko, seperti sesak napas, kebingungan arah hingga hipotermia.

‎“Khusus untuk kita orang Indonesia, tantangannya lain lagi. Kita tidak punya pegunungan bersalju untuk berlatih di sini, peralatan penunjang juga terbatas dan mahal. Karena itu persiapan dan latihan matang sangat penting agar saat tiba di sana kita siap menghadapi segala risiko,” jelasnya.

‎Bagi Fiersa, pengalaman berada di puncak gunung juga menghadirkan refleksi spiritual. Ia mengatakan, ketika berhasil mencapai puncak, manusia justru merasa sangat kecil dibandingkan dengan luasnya alam semesta.

‎“Sampai di puncak, gunung apa pun itu, justru kita merasa menjadi sangat kecil. Merasa dekat dengan Tuhan, menyadari manusia tidak ada apa-apanya dibanding alam semesta. Itu anugerah yang Tuhan izinkan kita lihat,” katanya.

‎Ia berharap pengalaman tersebut dapat dirasakan pula oleh masyarakat melalui video ekspedisi Kilimanjaro yang telah diproduksi.

‎“Semoga lewat video ini pun penonton bisa merasakan hal serupa, bangga, haru, kagum,” ucapnya.

‎Sementara itu, Commanditaire AREI, Bryant Peter Budijanto, mengatakan ekspedisi Kilimanjaro menjadi salah satu kesempatan untuk membuktikan kemampuan produk lokal Indonesia menghadapi tantangan di berbagai kondisi alam.

‎Menurutnya, sebagai produsen perlengkapan yang banyak digunakan di iklim tropis, AREI terus meningkatkan kapasitas agar mampu menghadirkan produk yang semakin berkualitas.

‎“Kami ingin membuktikan dan menghadirkan kualitas terbaik. Dengan begitu, kami ingin menunjukkan kepada para pengguna bahwa menggunakan produk AREI memberikan tiga hal, pertama kenyamanan, kedua gaya yang tetap keren, dan ketiga jaminan keamanan,” kata Bryant.

‎Ia mengatakan, kerja sama dengan Fiersa Besari juga menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman dan inovasi produk lokal melalui berbagai ekspedisi.

‎“Kami juga sangat terbuka untuk setiap peluang kerja sama ke depannya. Salah satunya adalah pendakian Gunung Kilimanjaro, dan mungkin nanti akan ada pendakian lain yang sebelumnya sudah sempat kami sebutkan, meski lokasinya belum bisa dipastikan,” ucapnya.

‎Bryant menambahkan, kolaborasi tersebut diharapkan dapat menginspirasi masyarakat dan komunitas pendaki untuk terus mengeksplorasi alam sekaligus menggunakan produk buatan Indonesia.

‎Ia menilai produk lokal Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat internasional, termasuk mendukung aktivitas di lingkungan ekstrem seperti pegunungan bersalju.

‎“Kami ingin membuktikan bahwa kemampuan dan kekuatan produk lokal Indonesia mampu bersaing hingga ke luar negeri, bahkan untuk menjelajahi pegunungan bersalju di belahan dunia lain,” katanya.

‎Bryant optimistis Indonesia memiliki sumber daya manusia, kemampuan intelektual, kualitas bahan baku, serta potensi produk lokal yang mampu dikembangkan lebih jauh.

‎“Kami percaya bahwa produk lokal Indonesia, apalagi baru saja kita merayakan 17 Agustus, memiliki potensi yang luar biasa, baik dari segi sumber daya manusia, kualitas, kemampuan intelektual, maupun bahan bakunya. Semoga hal ini bisa mendorong semakin banyak pihak untuk terus maju demi kemajuan Indonesia,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....