Festival Cingised 2026: JBK Soroti Budaya dan Masa Depan Generasi Muda
- 19 Agt 2026 09:37 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Cingised kota Bandung, menjadi momentum bagi Jala Bhumi Kultura (JBK) untuk menghadirkan makna kemerdekaan yang lebih luas. Melalui "Festival Cingised 2026", mengajak masyarakat memperkuat kepedulian sosial, menjaga seni dan budaya, serta turut memikirkan masa depan generasi muda.
Dihadiri Nizar Iskandar Ketua JBK, Dr.Memet Hakim selaku tokoh aktivis kemasyarakatan Jawa Barat, budayawan Hermana HMT dan Aendra Medita dari Mediatarium @rt Space Bandung. Turut hadir juga tokoh sunda Paskah Irianto, Andri Perkasa Kantaprawira, Rita Roesman dan Yoyon Darsono selaku akademisi seniman.
Ketua JBK Nizar Iskandar mengatakan peringatan kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada pengibaran bendera maupun perlombaan khas 17 Agustus. Menurutnya, kemerdekaan perlu dimaknai sebagai kesempatan untuk memperkuat jati diri masyarakat melalui budaya dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
"Berbicara soal merdeka, bukan hanya sekadar kibarkan bendera dan lomba memeriahkan. Lebih daripada itu, kita harus memiliki kembali jati diri, salah satunya melalui budaya," kata Nizar, Selasa 18 Agustus 2026.
Nizar menjelaskan, kegiatan yang digelar di Cingised juga menjadi ruang silaturahmi antara masyarakat, seniman, budayawan, dan sejumlah pihak yang memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial. Ia menyebut kepedulian terhadap masyarakat yang berada dalam kondisi rentan menjadi salah satu perhatian JBK.
Selain persoalan sosial, Nizar menyoroti kondisi seni dan budaya tradisional yang dinilai masih kerap berada di pinggiran. Padahal, menurut dia, seni tradisi seperti sisingaan dan tari Jaipongan merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Jawa Barat.
Para pelaku seni dan budaya juga membutuhkan ruang untuk berkarya sekaligus keberlanjutan kehidupan. Nizar mengungkapkan, JBK berencana memberikan ruang lebih besar bagi anak-anak untuk mengenal seni dan kegiatan kreatif.
"Sasaran kami adalah anak-anak, generasi muda, kami ingin mereka terhindar dari kegiatan yang tidak bermanfaat dan lebih fokus kepada kegiatan yang positif. Upaya itu penting di tengah semakin kuatnya penggunaan media sosial di handphone olah kalangan anak dan remaja," imbuhnya.
"HP berguna untuk komunikasi, bahkan sekarang ada program AI. Tetapi kalau penggunaannya tidak tepat, kita harus waspada terhadap dampaknya kepada generasi kita," jelasnya.
Salah satu orasi budaya pada Festival Cingised yang disampaikan budayawan Hermana AMT, kekhawatirannya terhadap generasi penerus bangsa, yang saat ini sudah melupakan identitas budaya, karena lebih menggandrungi gawai (handphone), merupakan cambuk atas kondisi yang dialami bangsa ini.
"Point yang kita sampaikan, yaitu gawai atau handphone yang sudah merusak pola pikir generasi muda, yang merusak saraf otak serta kebijakan pemerintah yang belum berpihak pada masyarakat. Kondisi itu semua harus segera di benahi agar bangsa Indonesia bisa terus ada," terang Hermana, dalam sesi orasi budaya.
Lanjutnya, Kemerdekaan harus menjadi acuan para pemangku kebijakan dalam memajukan bangsa, dengan pemikiran yang intelek, cerdas untuk melawan segala ancaman dari luar yang merusak generasi muda. "Hal itu, masih belum kita rasakan, yang ada hanya mereka berjuang demi kepentingan pribadi dan golongan," tegasnya.
Ditempat yang sama, tokoh aktivis kemasyarakatan Jabar Dr. Memet Hakim, menyampaikan apresiasi terhadap gerakan berbasis masyarakat yang dilakukan JBK. Ia menilai kepedulian terhadap bangsa tidak selalu harus ditunjukkan melalui kegiatan besar, tetapi dapat dimulai dari lingkungan sekitar.
"Kegiatan kebudayaan JBK dapat menjadi bagian dari upaya membangun kembali karakter masyarakat. Ketulusan JBK menggelar ini tidak bisa dibandingkan dengan kemeriahan di istana kemarin, tetapi makna kemerdekaan yang disampaikan JBK melebihi perayaan di istana," kata Memet.
Ia juga menilai kegiatan yang berlangsung di lingkungan masyarakat seperti Cingised dapat menjadi contoh, bahwa kepedulian yang dilakukan secara tulus di tingkat masyarakat justru dapat memberikan dampak langsung.
Rangkaian peringatan kemerdekaan di Cingised sendiri turut diisi upacara, perlombaan yang melibatkan anak-anak hingga orang dewasa, serta kegiatan seni dan budaya. Lomba makan kerupuk, balap karung, balap kelereng, memasukkan pensil ke dalam botol, hingga tarik tambang menjadi bagian dari kegiatan warga.
Namun, bagi JBK, rangkaian tersebut bukan tujuan akhir. Kegiatan peringatan kemerdekaan diharapkan menjadi jembatan untuk membangun komunikasi antara masyarakat sekaligus membuka ruang bagi seniman dan budayawan untuk kembali hadir di tengah lingkungan warga.
Bagi JBK, makna kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga mengenai kemampuan masyarakat menjaga jati diri dan membangun masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....