Hadapi Perang Kognitif, Kodiklatad Dorong Bela Negara di Ruang Digital

  • 14 Agt 2026 13:12 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Ancaman terhadap ketahanan bangsa kini tidak hanya datang dalam bentuk fisik. Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi turut menghadirkan tantangan baru berupa perang kognitif yang dapat memengaruhi cara berpikir masyarakat hingga mengganggu persatuan nasional.

Kondisi tersebut menjadi sorotan dalam Forum Kebangsaan Kesadaran Bela Negara TA 2026 yang digelar di Aula M. Toha Kodiklatad, Bandung, Kamis 13 Agustus 2026. Dalam forum tersebut, isu bela negara ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, termasuk bagaimana masyarakat menghadapi berbagai informasi dan pengaruh di ruang digital.

Komandan Kodiklatad Letjen TNI Dr. Mohamad Hasan, menghadiri kegiatan tersebut didampingi Direktur Umum Kodiklatad Brigjen TNI Saiful Rizal, Forum dipimpin Komandan Pusterad Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno.

Dankodiklatad Letjen TNI Mohamad Hasan menekankan bahwa bela negara tidak lagi hanya dimaknai melalui bentuk-bentuk konvensional. Di era digital, sikap bela negara juga dapat diwujudkan melalui perilaku bertanggung jawab saat menggunakan media sosial dan mengonsumsi informasi.

Menurut dia, generasi muda yang tumbuh sebagai digital native memiliki posisi strategis dalam menjaga ruang digital tetap sehat. Kemampuan memilah informasi menjadi penting karena perkembangan teknologi juga membuka peluang munculnya hoaks, ujaran kebencian, provokasi, hingga berbagai narasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Karena itu, generasi muda didorong untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang beredar tanpa melakukan verifikasi. “Ruang digital harus menjadi ruang untuk menyebarkan kebenaran, nilai-nilai Pancasila, kecintaan terhadap tanah air dan semangat kebangsaan,” pesan Dankodiklatad.

Hasan menilai penguatan kesadaran bela negara di ruang digital merupakan bagian dari kontribusi masyarakat dalam mempersiapkan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Komandan Pusterad Letjen TNI Mochamad Syafei Kasno mengingatkan bahwa dinamika global telah melahirkan bentuk ancaman nonmiliter yang semakin kompleks. Salah satunya berlangsung melalui ruang informasi dan digital yang dapat memengaruhi persepsi serta pola pikir masyarakat.

“Penguatan wawasan kebangsaan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesadaran bela negara, terutama bagi generasi muda karena menjadi kelompok yang paling intens berinteraksi dengan perkembangan teknologi dan media digital. Kesadaran tersebut, perlu dibangun dengan memahami sejarah bangsa, menumbuhkan nasionalisme, serta menjaga persatuan dan keutuhan NKRI,” jelas Komanadan Pusterad.

Forum tersebut diisi dengan sejumlah agenda, mulai dari menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa, sambutan Danpusterad dan Dankodiklatad, hingga penyampaian refleksi oleh K.H. Abdullah Gymnastiar.

Kegiatan juga menghadirkan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman untuk berdialog dalam sesi obrolan kebangsaan. Selain itu, Guru Besar FEB Unjani Prof. Dr. Heni N., S.E., M.Si., menyampaikan materi, disusul sesi motivasi oleh Brigjen TNI Antonio R. Da Silva, S.I.P., M.Han.

Melalui forum tersebut, penyelenggara berharap kesadaran bela negara tidak berhenti pada pemahaman normatif, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika masyarakat beraktivitas di ruang digital. Di tengah derasnya arus informasi dan berkembangnya perang kognitif, kemampuan berpikir kritis, menjaga etika bermedia sosial, menolak hoaks dan ujaran kebencian menjadi bagian dari upaya mempertahankan ketahanan nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....