Menjelang HUT RI, Pemkot Bandung Waspadai Kenaikan Harga Komoditas
- 10 Agt 2026 11:47 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Pemerintah Kota Bandung mewaspadai potensi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan yang dinilai sensitif terhadap inflasi. Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah bawang.
Wali Kota Bandung M Farhan mengatakan, bawang menjadi salah satu komoditas yang rentan mengalami kenaikan harga karena ketersediaan dari sisi produksi terbatas, sementara permintaan masyarakat Kota Bandung cukup tinggi.
“Memang harga yang sangat rentan adalah beberapa harga yang kita anggap sebagai barang-barang atau komoditas yang sensitif terhadap kenaikan harga,” ujar M Farhan di Balai Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026.
Menurut Farhan, tingginya permintaan bawang di Kota Bandung tidak terlepas dari karakteristik kota yang memiliki sektor pariwisata dan industri kuliner yang cukup besar. Kondisi tersebut membuat kebutuhan bawang, khususnya bawang dari Brebes, relatif tinggi.
“Orang Bandung memang seleranya tinggi. Kenapa? Karena rata-rata bawangnya untuk wisata, untuk industri kuliner. Jadi permintaan bawang Brebes ini tinggi sekali,” katanya.
Farhan menjelaskan, kondisi produksi bawang di Brebes yang cenderung mengalami fluktuasi turut memengaruhi pasokan dan harga bawang di Bandung. Ketika produktivitas menurun, sementara permintaan tetap tinggi, harga komoditas tersebut berpotensi ikut terdorong naik.
“Sedangkan produktivitas Brebes juga naik turun. Sehingga memang sangat berpengaruh,” ucapnya.
Selain bawang merah, Pemkot Bandung juga mencermati komoditas bawang putih dan bawang bombay yang sebagian pasokannya bergantung pada produk impor.
“Kedua, bawang impor. Bawang putih, bawang onion, bawang bombay, itu juga. Itu sebabnya sekarang ini kita sangat memperhatikan mengenai masalah kekeringan di beberapa wilayah,” katanya.
Menurutnya, kondisi cuaca dan kekeringan di sejumlah daerah menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi karena dapat berdampak terhadap produktivitas pertanian dan ketersediaan pasokan pangan.
Farhan menyebut, berdasarkan hasil konsultasi dengan Gubernur Jawa Barat, kondisi kekeringan diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober 2026.
“Konsultasi kami dengan gubernur, beliau mengatakan bahwa karena beliau memang petani, bahwa kekeringan ini diperkirakan terjadi sampai Oktober,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....