KDM Lampaui Elektabilitas Prabowo, Fahmy: Bukan Hal yang Mengejutkan

  • 31 Jul 2026 09:38 WIB
  •  Bandung

‎RRI.CO.ID, Bandung - Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menempatkan elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melampaui Presiden Prabowo Subianto dinilai bukan sesuatu yang mengejutkan.

‎Riset ini dilakukan pada rentang waktu 5–19 Juli 2026. Dalam simulas, Dedi Mulyadi menempati posisi teratas dengan perolehan dukungan sebesar 35 persen. Sementara itu, Prabowo Subianto berada di urutan kedua dengan raihan 14,5 persen.

‎Pengamat Politik Universitas Pasundan, Fahmy Iss Wahyudi, menyebut tren elektabilitas Dedi memang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

‎Menurut Fahmy, kenaikan elektabilitas Dedi Mulyadi telah terlihat sejak akhir 2025 dan terus berlanjut hingga survei terbaru yang dirilis SMRC. Sementara itu, elektabilitas Prabowo cenderung stagnan bahkan mengalami penurunan.

‎”Saya kira data yang dipublikasikan oleh SMRC pada dasarnya tidak begitu mengejutkan. Kalau kita baca sejak Desember, Januari, kemudian Mei sampai sekarang Juli, tren elektabilitas KDM memang meningkat. Hari ini bahkan sudah melewati elektabilitas Pak Prabowo,” ujar Fahmy. Kamis 30 Juli 2026.


‎Ia menilai, selama tidak ada peristiwa politik besar yang mampu mengubah persepsi publik, tren peningkatan elektabilitas Dedi Mulyadi masih berpotensi berlanjut.

‎”Bisa jadi terus meningkat kalau tidak ada peristiwa politik besar yang dapat mempengaruhi atau menghambat tren tersebut,” katanya.

‎Fahmy menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang mendorong meningkatnya elektabilitas Dedi Mulyadi. Faktor pertama adalah pemanfaatan media sosial sebagai sarana komunikasi politik yang efektif.

‎”Terobosan KDM menggunakan instrumen media sosial seperti YouTube, Instagram, dan platform lainnya menjadi media yang efektif memengaruhi persepsi pemilih, meskipun belum memasuki masa kampanye,” ucapnya.

‎Faktor kedua, menurut Fahmy, adalah pendekatan komunikasi politik Dedi Mulyadi yang dinilai lebih cair dan dekat dengan masyarakat dibandingkan elite politik nasional.

‎”KDM membangun pendekatan komunikasi politik yang berbeda. Lebih cair, lebih friendly, lebih ramah, lebih bersahabat. Dugaan kami, model seperti itu jauh lebih diterima oleh publik luas,” jelasnya.


‎Sementara faktor ketiga adalah pendekatan kebijakan yang dinilai lebih menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Berbeda dengan kebijakan nasional yang lebih berorientasi makro, Dedi Mulyadi dinilai lebih banyak menghadirkan program berskala mikro yang dampaknya dirasakan masyarakat.

‎”Sementara KDM memprioritaskan kebijakan yang bersifat mikro, yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Perbaikan jalan, perbaikan rumah, yang meskipun skalanya kecil, tetapi diproduksi lewat media sosial yang pengikutnya banyak sehingga efeknya menjadi terasa besar,” tuturnya.

‎Menurut Fahmy, kombinasi ketiga faktor tersebut menjadi penjelas mengapa elektabilitas Dedi Mulyadi terus mengalami peningkatan dan berpotensi menembus angka di atas 30 persen apabila tren yang ada terus berlanjut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....