Sinergi Dua Kementerian Perkuat Karakter dan Kesehatan Mental Remaja

  • 30 Jul 2026 18:39 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Pemerintah memperkuat upaya menciptakan generasi muda yang berkualitas melalui sinergi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), melalui penandatanganan nota kesepahaman.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045 melalui penguatan peran keluarga dan pendidikan. Kolaborasi ini juga diarahkan untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi remaja, mulai dari kesehatan mental, pengaruh negatif di ruang digital, hingga tantangan dalam membangun karakter dan kesiapan menghadapi masa depan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengatakan kedua kementerian memiliki tujuan yang sama, yakni mencetak generasi muda yang mampu menjadi fondasi kemajuan bangsa di masa mendatang.

Menurutnya, generasi yang saat ini berada di bangku sekolah, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha, merupakan aset penting yang harus dipersiapkan tidak hanya melalui peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga pembinaan karakter dan ketahanan mental.

"Keberhasilan Indonesia di masa depan sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya. Karena itu, pendidikan harus mampu membentuk peserta didik yang tangguh, berkarakter, dan siap menghadapi berbagai tantangan zaman," ujar Abdul Mu'ti, dalam keterangannya, Kamis 30 Juli 2026.

Ia menambahkan, sinergi dengan Kemendukbangga diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih komprehensif, di mana sekolah dan keluarga memiliki peran yang sama dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam pembangunan bangsa. Menurutnya, kualitas keluarga akan sangat menentukan kualitas masyarakat dan negara di masa depan.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang dimiliki kementeriannya, sekitar 34,9 persen remaja menghadapi persoalan kesehatan mental. Dari jumlah tersebut, sebanyak 50,2 persen telah menunjukkan gejala yang mengarah pada gangguan kesehatan jiwa.

Melihat kondisi tersebut, Wihaji menilai kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan keluarga sekaligus memberikan pendampingan yang lebih baik kepada remaja.

"Kalau ingin membangun negara yang kuat, maka pembangunan harus dimulai dari keluarga. Ketika keluarga mampu menjalankan fungsinya dengan baik, berbagai persoalan sosial akan lebih mudah diatasi," ujarnya.

Melalui nota kesepahaman tersebut, pemerintah berharap berbagai program yang dijalankan kedua kementerian dapat saling melengkapi sehingga mampu menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak dan remaja secara menyeluruh, baik dari sisi pendidikan, karakter, maupun kesehatan mental, sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....