Pelatihan Calon Pekerja ke Jepang di Bandung Berlangsung 6–10 Bulan

  • 30 Jul 2026 16:49 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Calon tenaga kerja asal Kota Bandung yang akan mengikuti program pemagangan ke Jepang menjalani pelatihan intensif di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) selama 6 hingga 10 bulan sebelum diberangkatkan. Pelatihan tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan bahasa Jepang, tetapi juga membekali peserta dengan pemahaman budaya, etos kerja, hingga keterampilan sesuai bidang pekerjaan yang akan dijalani.

‎Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bandung, Yayan Ahmad Brilyana, mengatakan anggaran subsidi pelatihan dari Disnaker mencakup tiga bulan. Namun, durasi pelatihan secara keseluruhan ditentukan oleh masing-masing LPK dan umumnya berlangsung sekitar enam bulan hingga peserta siap diberangkatkan.

‎"Kalau pelatihannya, sebenarnya dari anggaran dari Disnaker itu tiga bulan. Tapi tiap LPK punya kebijakan masing-masing. Biasanya sampai keberangkatan sekitar enam bulan. Jadi peserta dilatih dari nol sampai siap berangkat ke Jepang," ujar Yayan di Miko Mall, Kota Bandung, Kamis 30 Juli 2026.

‎Ia menjelaskan, setiap LPK memiliki fokus pelatihan yang berbeda sesuai kebutuhan industri di Jepang. Salah satu bidang yang paling banyak diminati adalah kaigo atau perawat lansia, karena Jepang masih mengalami kekurangan tenaga kerja muda di sektor tersebut.

‎"Kalau saya kira tiap LPK beda-beda. Di tempat saya lebih banyak bidang caregiver atau kaigo. Ada juga LPK lain seperti Bahana yang memiliki bidang serupa. Rata-rata pelatihan berlangsung lima sampai enam bulan, termasuk pelatihan fisik dan keterampilan kerja," katanya.

‎Menurut Yayan, keberangkatan calon pekerja ke Jepang dilakukan secara bertahap. Sebagian peserta berangkat pada Juli, disusul peserta lainnya pada Agustus hingga akhir tahun 2026.

‎Untuk meringankan beban biaya peserta, Pemerintah Kota Bandung memberikan subsidi pelatihan bahasa Jepang. Sementara biaya lain seperti tiket pesawat, pengurusan visa, dan kebutuhan awal di Jepang didukung melalui kerja sama dengan perbankan maupun perusahaan penerima di Jepang.

‎"Keberangkatan ke Jepang membutuhkan biaya tiket, visa, dan biaya hidup awal. Karena itu kami bekerja sama dengan pemerintah untuk subsidi pelatihan bahasa, kemudian dengan perbankan untuk pembiayaan. Ada yang ditanggung pihak Jepang, ada juga yang dibiayai bank dan dicicil setelah mereka bekerja melalui pemotongan gaji. Jadi peserta pada dasarnya tidak perlu mengeluarkan biaya di awal, tinggal kemauan dan kesungguhannya saja," jelasnya.

‎Yayan menyebutkan, terdapat tiga LPK yang bekerja sama dalam program tersebut, yakni LPK Bahana, LPK Hikari Senseiko, dan LPK UHM. Pada keberangkatan kali ini, sebanyak 40 peserta diberangkatkan ke Jepang.

‎Sementara itu, salah seorang calon peserta magang asal Margahayu, Buah Batu, Kota Bandung, Zulfikar, mengatakan masa persiapan di LPK berkisar antara enam hingga sepuluh bulan, tergantung kesiapan masing-masing peserta.

‎"Biasanya persiapan enam sampai sepuluh bulan. Selain belajar bahasa Jepang, kami juga belajar budaya, kebiasaan masyarakat Jepang, dan cara kerja di sana. Saya sendiri mengambil bidang kaigo atau perawat lansia," ucapnya.

‎Zulfikar mengaku tertarik bekerja di Jepang karena ingin mengikuti jejak saudaranya yang lebih dahulu bekerja di negara tersebut. Menurutnya, tantangan terbesar selama pelatihan adalah mempelajari bahasa Jepang, terutama huruf Kanji yang cukup sulit dipahami.

‎"Tantangannya paling di bahasa karena berbeda dengan Indonesia. Kanji itu cara menulisnya cukup sulit. Tapi karena tenaga perawat lansia di Jepang masih sangat dibutuhkan, peluang kerjanya juga besar. Itu yang membuat saya memilih bidang kaigo," tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....