Pengrajin Goni di Kota Bandung Sulap Karung Bekas Jadi Karya Seni Bernilai Ekonomi
- 29 Jul 2026 15:18 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Di tengah maraknya produk kerajinan modern, seorang perajin di Kota Bandung tetap konsisten mengolah karung goni bekas menjadi karya seni unik yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai jual. Melalui kreativitasnya, karung bekas disulap menjadi berbagai miniatur, patung karakter, hingga hiasan bertema sosial.
Pengrajin Goni Craft Natural Art, Kosasih Sarifudin, yang berkarya di kawasan Buahbatu, Bandung, mengatakan seluruh produknya dibuat dari bahan alami dan barang bekas. Selain menggunakan karung goni, ia juga memanfaatkan biji camplung yang banyak ditemukan di pinggir jalan sebagai pelengkap karya.
"Ini kerajinan karung goni, Goni Craft Natural Art. Bahannya dari karung goni, kemudian bijinya dari biji camplung. Untuk karakter bebas, tetapi kebanyakan mengangkat tema-tema sosial," ujar Kosasih, Rabu 29 Juli 2026.
Menurutnya, proses pembuatan setiap karya membutuhkan waktu yang berbeda, tergantung tingkat kerumitan desain. Untuk karya sederhana hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit, sedangkan miniatur bertema otomotif dapat dikerjakan hingga setengah hari.
"Kalau satu item yang sederhana bisa sekitar setengah jam. Kalau model otomotif biasanya sampai setengah hari," katanya.
Ia mengakui tantangan terbesar dalam membuat kerajinan bukan pada proses merangkai bahan, melainkan menciptakan karakter yang menarik dan memiliki ekspresi. Ide-ide tersebut biasanya muncul secara spontan berdasarkan imajinasi.
"Kesulitannya ada di karakter. Kita harus memikirkan bagaimana bentuk dan ekspresinya. Biasanya datang begitu saja, langsung muncul idenya," ungkapnya.
Berbagai karakter yang dibuat umumnya menggambarkan aktivitas masyarakat sehari-hari, seperti pekerja, pedagang, hingga profesi lainnya. Sementara karakter yang belum pernah dibuat justru menjadi tantangan tersendiri baginya.
Kosasih mengaku mulai menekuni kerajinan berbahan goni sejak tahun 1998. Ketertarikannya berawal dari keunikan material yang jarang dimanfaatkan orang lain serta keinginannya menghadirkan karya seni berbahan alami.
"Sudah dari tahun 1998 saya membuat kerajinan dari goni. Saya tertarik karena bahannya unik, langka, dan saya senang memainkan unsur-unsur natural," ujarnya.
Selama hampir tiga dekade berkarya, hasil kerajinannya telah dipamerkan hingga ke luar negeri. Ia pernah mengikuti pameran di Belanda, sementara di dalam negeri dirinya beberapa kali mengisi workshop di Pontianak dan Palembang.
Meski memiliki kualitas seni yang tinggi, harga produknya tetap terjangkau. Miniatur bertema otomotif dijual sekitar Rp65.000, sedangkan patung dan karakter lainnya dibanderol antara Rp30.000 hingga Rp50.000.
Pembelinya pun berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, ibu rumah tangga, hingga masyarakat umum yang tertarik pada kerajinan berbahan daur ulang.
Untuk menjaga konsep ramah lingkungan, Kosasih lebih memilih menggunakan karung goni bekas daripada membeli bahan baru.
"Kami mencari karung bekas, seperti bekas terigu, bekas kacang, atau bekas cabai. Kalau pakai yang baru memang mudah didapat, tetapi bukan konsep daur ulang. Justru kami ingin memanfaatkan barang bekas menjadi karya yang bernilai," tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....