Pemkot Bandung Percepat Penghijauan Lewat Program Rindu Rindang
- 22 Jul 2026 17:05 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mempercepat upaya penghijauan sebagai solusi jangka panjang menghadapi ancaman krisis air dan bencana hidrometeorologi melalui Program Rehabilitasi Ruang Publik dan Ruang Terbuka Hijau (Rindu Rindang). Program tersebut ditandai dengan penanaman pohon perdana di RW 09, Kelurahan Pasirwangi, Kecamatan Ujungberung, Rabu 22 Juli 2026.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa penanaman pohon bukan sekadar memperindah lingkungan, melainkan menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan daya dukung lingkungan, menjaga ketersediaan air tanah, serta memperkuat ketahanan Kota Bandung dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
"Kalau dibandingkan antara pembangunan fisik dengan penghijauan memang masih jauh. Tetapi upayanya tidak boleh berhenti. Ruang terbuka hijau kita masih di bawah 15 persen. Karena itu setiap penanaman pohon menjadi sangat penting agar vegetasi terus bertambah dan tercatat dalam peningkatan indeks ruang terbuka hijau," ujar Farhan, Rabu 22 Juli 2026.
Ia menilai keberhasilan menjaga kelestarian lingkungan harus dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Farhan mengapresiasi inisiatif warga RW 09 Pasirwangi yang memulai gerakan penghijauan, kemudian mendapat dukungan dari berbagai perangkat daerah.
"Saya selalu mengatakan, kalau masyarakat sudah punya inisiatif, pemerintah siap mendukung. Cara seperti ini jauh lebih efektif karena masyarakat ikut memiliki dan ikut menjaga hasil pembangunannya," katanya.
Menurut Farhan, tantangan terbesar bukan hanya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menanam pohon, tetapi juga menjaga kawasan hijau agar tidak beralih fungsi menjadi kawasan pembangunan.
Ia mengingatkan, Kota Bandung membutuhkan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, pembangunan harus tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan agar tidak mengurangi daya dukung alam.
"Kota Bandung membutuhkan investasi, tetapi kita juga membutuhkan lingkungan yang tetap lestari. Keseimbangan itu yang harus terus dijaga agar pembangunan tidak mengorbankan daya dukung lingkungan," ucapnya.
Farhan juga mengajak masyarakat memandang penghijauan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana. Menurutnya, rasa aman tidak hanya berarti terbebas dari tindak kriminalitas, tetapi juga terlindungi dari ancaman bencana yang dipicu kerusakan lingkungan.
"Kita harus membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Mudah-mudahan kita tidak pernah diuji dengan musibah, tetapi kita tetap harus bersiap. Salah satunya dengan mencegah bencana melalui penghijauan seperti yang kita lakukan hari ini," tuturnya.
Ia turut menyinggung peristiwa angin kencang yang terjadi pada 3 April lalu dan menyebabkan hampir 100 pohon tumbang di berbagai titik Kota Bandung. Berkat respons cepat seluruh perangkat daerah, penanganan dapat dilakukan dalam waktu singkat sehingga aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar, tetap berjalan normal.
"Itu menunjukkan Kota Bandung memiliki ketangguhan. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita mencegah bencana agar dampaknya semakin kecil," katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi, menjelaskan bahwa penghijauan merupakan solusi paling efektif untuk mengatasi ancaman krisis air bersih yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kota Bandung.
Berdasarkan data BPBD, terdapat 13 kecamatan dan 24 kelurahan yang berpotensi mengalami krisis air bersih. Wilayah tersebut mencakup 114 RW, 167 RT, serta 6.353 kepala keluarga atau sekitar 23.379 jiwa.
Untuk memenuhi kebutuhan minimum masyarakat terdampak, diperlukan sekitar 331.695 liter air setiap hari atau setara dengan sekitar 70 mobil tangki. Jika kondisi itu berlangsung selama satu bulan, kebutuhan distribusi air diperkirakan mencapai hampir 2.200 mobil tangki.
"Kalau hanya mengandalkan distribusi air bersih, tentu biayanya sangat besar. Solusi permanennya adalah meningkatkan resapan air melalui penghijauan dan penambahan ruang terbuka hijau," ujar Didi.
Ia menjelaskan, kawasan hijau mampu menyerap sebagian besar air hujan sehingga dapat mengurangi limpasan permukaan yang memicu banjir sekaligus meningkatkan cadangan air tanah pada musim kemarau.
" BPBD Kota Bandung juga menerapkan metode irigasi kapiler untuk meningkatkan tingkat keberhasilan tanaman selama musim kemarau. Metode tersebut memanfaatkan botol berisi air yang ditanam di dekat pohon sehingga kelembapan tanah dapat terjaga secara bertahap," tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....