WRI Indonesia-Disbudpar Bandung Kampanyekan, Lawan Sampah Makanan

  • 11 Jul 2026 20:43 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – WRI Indonesia bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung meluncurkan kampanye "Tong Kalap, Tong Nyesa!" di Nara Park, Sabtu 11 Juli 2026. Kampanye tersebut merupakan bagian dari program Urban Futures yang didukung Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial.

Gerakan ini menyasar generasi muda untuk menjadikan pengurangan sampah makanan (food waste) sebagai gaya hidup baru. Peluncuran ini merespons krisis sampah di Bandung yang menghasilkan 1.600 ton sampah per hari, di mana 44–45 persennya didominasi sampah makanan.

Data menunjukkan bahwa 80 persen sampah rumah tangga terjadi saat konsumsi, bahkan 44 persennya adalah makanan layak makan yang terbuang sia-sia. Direktur Program Pangan, Lahan, dan Air WRI Indonesia, Tomi Haryadi, menyebut sampah makanan sebagai tantangan besar perkotaan.

"Data global menunjukkan sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) serta rumah tangga menjadi penyumbang utama. Temuan Dinas Lingkungan Hidup Bandung mengungkap 63 persen sampah makanan berasal dari sektor horeka, sisanya dari rumah tangga," ujar Tomi. Ia menekankan bahwa perubahan perilaku masyarakat adalah kunci utama untuk memutus rantai sampah dari sumbernya.

"Melalui kampanye ini, kami berharap dapat mendorong perubahan perilaku orang muda di Kota Bandung dalam mengonsumsi makanan mereka sehingga nantinya bisa memengaruhi kelompok masyarakat yang lebih luas," tambahnya.

Persoalan sampah makanan menjadi semakin mendesak mengingat kapasitas tempat pemrosesan akhir (TPA) di Bandung yang semakin terbatas. Kota Bandung pernah mengalami tragedi TPA Leuwigajah yang menelan ratusan korban jiwa akibat ledakan gas metana. Sementara itu, TPA Sarimukti kini telah beroperasi jauh melebihi kapasitas idealnya, dengan sekitar 78 persen sampah yang masuk berasal dari Kota Bandung.

Melihat kondisi tersebut, WRI Indonesia memilih generasi muda sebagai agen perubahan. Lebih dari 20 persen penduduk Kota Bandung merupakan orang muda yang dinilai memiliki pengaruh besar dalam membentuk norma sosial baru, termasuk kebiasaan mengurangi sisa makanan.

Program Development Manager Climate Justice Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, Arti Indallah, mengatakan pengurangan sampah makanan merupakan bagian dari aksi nyata menghadapi perubahan iklim.

"Perubahan iklim merupakan isu keadilan. Orang muda akan menjadi kelompok yang paling terdampak, tetapi sekaligus memiliki peran besar untuk memimpin solusinya." Ia berharap kampanye tersebut tidak berhenti di Bandung.

"Melalui kampanye ini, Urban Futures ingin menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan secara bijak dan mengurangi sampah makanan bisa menjadi aksi iklim yang nyata. Harapannya, pendekatan dalam kampanye ini dapat direplikasi di kota-kota lain dan berkembang menjadi gerakan yang lebih besar."ucapnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Ir. H. Adi Junjunan Mustafa, mengatakan sektor pariwisata Kota Bandung tidak bisa dipisahkan dari keberadaan ribuan kafe dan restoran yang menjadi magnet wisata.

"Di Kota Bandung, sektor pariwisata dengan kafe dan restoran sebagai pusat aktivitasnya menjadi daya tarik utama yang menghidupkan kota. Namun tingginya timbulan sampah makanan saat ini menjadi ancaman nyata bagi sektor tersebut."

Karena itu, pihaknya mengajak seluruh pelaku usaha kuliner ikut terlibat dalam perubahan. "Melalui kampanye Tong Kalap, Tong Nyesa bersama WRI Indonesia di bawah program Urban Futures, kami berkomitmen mendorong para pelaku usaha kafe dan restoran agar turut berkontribusi mewujudkan ekosistem konsumsi yang lebih bertanggung jawab menuju pariwisata berkelanjutan di Bandung,"ucapnya.

Sebagai tahap awal, kampanye ini menggandeng 10 restoran dan kafe sebagai mitra percontohan, yakni Nara Park, Greens & Beans, Work.unusual, Milestone Coffee, NERD Laboratory, Tedja Koffee Cabang Jalan Aceh, Pho Ngon, Hutanika, Kopitera Cabang Burangrang, dan Bagi Kopi Signature.

Pemilik Nara Park, Erick Jusuf, mengatakan pelaku usaha kuliner memiliki tanggung jawab untuk ikut mengedukasi konsumennya. "Sebagai pelaku usaha kuliner, kami sadar bahwa menjadi tanggung jawab kami untuk mengedukasi pelanggan agar lebih bijak dalam mengonsumsi makanan mereka,"ujarnya.

Menurut Erick, kolaborasi dengan WRI Indonesia dan Disbudpar menjadi langkah positif bagi industri kuliner. "Kami senang dapat berkolaborasi dengan WRI Indonesia dan Disbudpar karena kampanye ini menjadi media bagi kami untuk memberikan edukasi kepada pelanggan,"ucap dia.

Peluncuran kampanye juga menghadirkan diskusi bertajuk "Bagaimana Pelibatan Orang Muda serta Kafe/Restoran Bisa Mengatasi Sampah Makanan di Bandung?".

Co-Founder sekaligus Chief of Impact and Marketing Plastavfall Solution, Adora Beatha, menilai kesadaran generasi muda terhadap pengelolaan sampah mulai tumbuh.

"Orang muda Bandung sudah lebih sadar untuk memilah sampah makanan, tetapi semangat kolektivitas antar komunitas orang muda masih perlu ditingkatkan,"ungkapnya.

Menurut Adora, perubahan perilaku harus menjadi fokus utama. "Bandung adalah salah satu kota yang sangat berpotensi menghasilkan dampak buruk dari sampah organik jika tidak ditangani dengan baik. Karena itu, perubahan perilaku menjadi langkah paling penting agar sampah makanan bisa berkurang sejak dari sumbernya,"ucapnya.

Selain kampanye di restoran dan kafe, WRI Indonesia juga akan menggelar kompetisi "Barudak Beraksi" untuk mendorong komunitas anak muda merancang solusi pengurangan sampah makanan di lingkungannya. Selain itu, akan diselenggarakan pelatihan "Barudak Ngajarkeun" guna mencetak fasilitator muda yang mampu mengedukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah makanan di tingkat rumah tangga.

Kampanye Tong Kalap, Tong Nyesa! akan berlangsung hingga akhir November mendatang. Melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan generasi muda, WRI Indonesia berharap gerakan ini mampu melahirkan budaya konsumsi yang lebih bertanggung jawab sekaligus menjadi model yang dapat diterapkan di berbagai kota lain di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....