Milangkala Desa Campakamekar Momentum Bangun Kesadaran Sejarah dan Kemandirian
- 05 Jul 2026 15:25 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung Barat – Peringatan Milangkala ke-47 Desa Campakamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan. Pemerintah Desa menjadikan peringatan hari jadi desa sebagai momentum untuk mengingat perjuangan para pendahulu sekaligus memperkuat semangat masyarakat dalam membangun desa yang mandiri dan berdaya saing.
Rangkaian kegiatan diawali pada 5 Juli 2026 dengan agenda religius berupa takziah, tahlil, dan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan Desa Cempaka Mekar selama 47 tahun. Selanjutnya, puncak perayaan akan digelar pada 11 Juli 2026 dengan menampilkan kesenian tradisional Wayang Golek sebagai upaya melestarikan budaya lokal.
Kepala Desa Campakamekar, Agus Restiawan, mengatakan Milangkala menjadi waktu yang tepat untuk mengingat kembali sejarah lahirnya desa yang dibangun melalui perjuangan dan pengorbanan para tokoh terdahulu.
"Desa ini berdiri bukan secara tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang yang penuh perjuangan. Apa yang kita rasakan hari ini, termasuk infrastruktur desa yang semakin baik, merupakan hasil kerja keras para pemimpin dan masyarakat sebelumnya. Karena itu, generasi muda perlu memahami sejarah desanya agar tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab untuk melanjutkan pembangunan," ujarnya, Minggu 5 Juli 2026.
Menurut Agus, keberhasilan pembangunan desa tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah desa. Ia menilai partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat menjadi faktor utama dalam menentukan arah kemajuan Desa Campakamekar.
Ia mengajak seluruh unsur masyarakat, mulai dari pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga lembaga desa, untuk memberikan gagasan dan kontribusi nyata demi kemajuan bersama.
"Kemajuan desa adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah desa membutuhkan dukungan, ide, dan keterlibatan seluruh masyarakat agar setiap program pembangunan dapat berjalan optimal," katanya.
Dalam sambutannya, Agus juga mengingatkan pentingnya membangun pola pikir mandiri di tengah berbagai program bantuan yang diberikan pemerintah. Menurutnya, bantuan sosial seharusnya menjadi stimulan, bukan menjadi tujuan utama masyarakat.
Ia menilai ketergantungan terhadap bantuan berpotensi melemahkan semangat berusaha dan menghambat pertumbuhan ekonomi masyarakat apabila tidak diimbangi dengan upaya meningkatkan produktivitas.
Sebagai ilustrasi, Agus mencontohkan bantuan komoditas seperti minyak goreng yang dinilai lebih banyak memberikan manfaat kepada produsen dibandingkan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat dalam jangka panjang.
Karena itu, ia mengajak warga mulai melihat berbagai potensi ekonomi yang dapat dikembangkan di lingkungan desa agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Menutup sambutannya, Agus menegaskan bahwa tantangan pada era modern tidak lagi berbentuk penjajahan secara fisik, melainkan melalui ketergantungan ekonomi dan pola pikir masyarakat. Ia berharap Milangkala ke-47 menjadi momentum kebangkitan untuk membangun masyarakat yang lebih kritis, produktif, dan mandiri.
"Dengan semangat kebersamaan dan kemandirian, kami berharap seluruh program pembangunan desa dapat berjalan lebih efektif serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Cempaka Mekar," jelasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....