IKAL Lemhanas Dorong Pendidikan Karakter untuk Cegah Pelanggaran Berjamaah
- 30 Jun 2026 17:45 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Ketua DPD Ikatan Keluarga Alumni (IKAL) Lemhanas Jabar, Mayjen TNI (Purn) Deni K Irawan, menilai penerapan pendidikan karakter melalui program Retret Pemimpin Daerah maupun pendidikan karakter bagi pelajar memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan upaya memperkuat bela negara.
Menurut Deni, pembentukan karakter menjadi fondasi utama dalam mencetak pemimpin yang memiliki integritas, cinta tanah air, dan bertanggung jawab terhadap amanah yang diemban.

"Karakter seorang pemimpin harus mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Seorang pemimpin harus memiliki rasa cinta kepada bangsanya dan memiliki rasa takut kepada Tuhan sehingga malu melakukan perbuatan yang menyimpang," ujarnya, di RRI Bandung, Selasa 30 Juni 2026.
Ia menilai berbagai pelanggaran hukum dan penyalahgunaan kewenangan yang terjadi saat ini tidak lepas dari persoalan karakter individu. Bahkan, menurutnya, sejumlah pelanggaran dilakukan secara terorganisasi sehingga menunjukkan adanya krisis nilai dalam kehidupan berbangsa.
"Saat ini kita melihat banyak pelanggaran yang dilakukan secara berjamaah dan terstruktur. Itu menunjukkan adanya persoalan karakter yang tidak lagi mencerminkan jati diri bangsa Indonesia," katanya.
Deni menegaskan, penguatan karakter bangsa harus dimulai dari keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setiap individu, kata dia, memiliki tanggung jawab langsung atas setiap tindakan yang dilakukan tanpa bisa dialihkan kepada pihak lain.
Menurutnya, nilai-nilai spiritual menjadi benteng agar seseorang terhindar dari sifat serakah maupun perilaku yang merugikan masyarakat.
"Kita harus menyadari bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT sehingga wajib tunduk dan patuh terhadap aturan-Nya. Pemahaman inilah yang dapat menjauhkan seseorang dari karakter yang serakah," ungkapnya.
Deni mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai memperkuat pendidikan karakter, termasuk melalui program Retret Pemimpin Daerah dan pembinaan karakter bagi generasi muda. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kualitas para pembimbing.
Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan oleh sosok yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus diberikan oleh figur yang berintegritas serta mampu memahami berbagai disiplin ilmu.
"Pendidikan karakter harus disampaikan oleh orang-orang yang memiliki kapasitas sebagai seorang generalis, mampu mengakomodasi berbagai disiplin ilmu, sehingga tujuan akhirnya benar-benar menjaga karakter bangsa, bukan hanya membentuk orang yang cerdas secara intelektual," jelasnya.
Ia menambahkan, pembentukan karakter sejatinya merupakan proses panjang yang dimulai sejak seseorang masih berada dalam kandungan dan membutuhkan konsistensi sepanjang kehidupan.
Selain pendidikan karakter, Deni menilai penegakan hukum yang tegas juga menjadi faktor penting dalam membangun budaya taat aturan di Indonesia. Ia menilai masyarakat Indonesia pada dasarnya memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Namun, apabila terdapat celah dalam aturan, potensi pelanggaran dapat dimanfaatkan oleh oknum tertentu.
"Orang Indonesia itu pintar-pintar. Kalau ada celah aturan, potensi pelanggaran bisa dilakukan. Karena itu pemerintah harus membuat regulasi yang tegas dan memberikan sanksi berat terhadap setiap kejahatan yang merugikan bangsa dan masyarakat," tegasnya.
Meski demikian, Deni optimistis Indonesia mampu menjadi bangsa yang semakin maju dan berdaulat apabila penguatan karakter berjalan seiring dengan penegakan hukum yang konsisten.
"Saya yakin bangsa ini akan semakin berdaulat dan maju apabila karakter-karakter yang menyimpang dihadapi dengan aturan yang tegas serta pendidikan karakter yang berkelanjutan," bebernya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....