Keluarga Abai, Kesehatan Mental Calon Pemimpin Bangsa Taruhannya
- 30 Jun 2026 17:06 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Persiapan menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya melulu soal pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Faktor kualitas sumber daya manusia, yang bermula dari lingkungan terkecil yaitu keluarga, justru menjadi penentu utama apakah estafet kepemimpinan masa depan akan berjalan dengan baik atau justru sebaliknya.
Pakar Psikologi Komunikasi dari Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Dr. Almadina Rakhmaniar, mengingatkan adanya dampak sistemik yang berkepanjangan bagi negara jika institusi keluarga abai dan terlalu asyik dengan dunianya masing-masing. Sikap abai orang tua dinilai dapat memutus mata rantai pembentukan karakter generasi penerus.
Menurut Almadina, dampak paling dekat akan langsung memukul kondisi internal anak itu sendiri. Tanpa adanya bimbingan dan arahan yang jelas dari orang tua di rumah, kesehatan mental anak di era digital ini menjadi sangat rentan karena mereka kehilangan kompas moral.
"Dampaknya tentu berkepanjangan ya, selain tadi akan meneruskan perilaku-perilaku menyimpang tanpa ada arahan yang jelas. Untuk si anak, tentu dari kesehatan mentalnya pun akan terganggu ketika mereka tidak bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk," ujar Almadina. Selasa 30 Juni 2026.
Lebih jauh, Almadina memproyeksikan kerugian besar yang harus ditanggung oleh negara di masa depan jika kelalaian pola asuh ini terus dibiarkan. Anak-anak yang tumbuh tanpa fondasi karakter yang kokoh hari ini, kelak akan menjadi para pemegang kebijakan dan pemimpin bangsa dua dekade mendatang.
Jika mereka gagal mengelola dan bertanggung jawab atas diri mereka sendiri akibat kurangnya didikan moral sejak dini, maka kepemimpinan mereka di masa depan pun dipertanyakan. Mereka dikhawatirkan tidak akan mampu mengemban amanah untuk melindungi masyarakat luas.
"Anak-anak sekarang ini adalah calon pemimpin-pemimpin masa depan yang mungkin kalau kita berbicara Indonesia Emas 2045, ya anak-anak kitalah yang nantinya akan menjadi pemimpin di masa itu. Mereka yang punya jabatan, mereka yang punya kuasa untuk membangun negara ini. Nah, kalau tidak ada pondasi yang kuat dari anak-anak yang sekarang kita didik, kebayang akan seperti apa negara kita," tuturnya dengan nada penuh kekhawatiran.
Menyikapi fenomena ini, Almadina mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya para orang tua, untuk kembali menyadari hakikat mendasar dari kehadiran seorang anak. Walau secara regulasi perlindungan anak adalah tanggung jawab kolektif, namun benteng pertahanan utama tetap berada di tangan ayah dan ibu.
Kesibukan dan kepadatan aktivitas harian tidak boleh menjadi pembenaran untuk menomorduakan anak. Orang tua dituntut untuk lebih peka dan hadir secara utuh, bukan sekadar hadir secara fisik di dalam rumah namun abai secara emosional.
"Untuk para orang tua, yang pasti kita harus menyadari bahwa anak itu adalah tanggung jawab. Walaupun kalau secara undang-undang anak itu tanggung jawab semua orang, tapi kembali lagi bahwa yang paling mempunyai tanggung jawab itu adalah orang tua terhadap anak-anaknya sendiri," kata Almadina menekankan.
Sebagai penutup, ia mendorong gerakan pemulihan interaksi di dalam rumah melalui pembagian waktu yang berkualitas (quality time). Pendekatan ini tidak bisa disamaratakan secara klasikal dalam keluarga, melainkan harus dilakukan secara personal kepada setiap anak agar pendekatan emosional yang terbangun jauh lebih efektif.
"Seminimalnya kita membangun lagi gerakan untuk bisa berinteraksi dengan waktu yang berkualitas dengan anak. Punya quality time tersendiri dengan anaknya masing-masing, bukan hanya family time. Setiap orang tua harus punya waktu yang berkualitas dengan masing-masing anak, karena di situlah orang tua berkewajiban memberikan pondasi yang kuat," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....