Kelekatan Keluarga Rapuh, Anak Rentan Jadi Korban Kejahatan
- 30 Jun 2026 13:59 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) menjadi ruang refleksi bersama mengenai kondisi ketahanan keluarga di Indonesia. Di tengah pesatnya penetrasi digital, pola relasi antara orang tua dan anak kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan generasi terdahulu.
Pakar Psikologi Komunikasi dari Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Dr. Almadina Rakhmaniar, menyoroti adanya pergeseran perilaku yang signifikan dalam institusi keluarga akibat determinasi teknologi. Fenomena digitalisasi ini lambat laun dinilai mengikis kedekatan emosional atau attachment antaranggota keluarga di rumah.
Menurut Almadina, perubahan paling sederhana dapat dilihat dari aktivitas harian yang mulai luntur, seperti momen makan bersama. Jika dahulu meja makan menjadi ruang komunal tempat seluruh anggota keluarga berkumpul dan menyantap hidangan yang sama, realitas saat ini menunjukkan pemandangan yang bertolak belakang.
"Kalau sekarang dengan kecanggihan teknologi yang serba bisa, sekarang semuanya bisa. Ibaratnya satu keluarga bisa makanan berbeda-beda. Nah, dari situ aja sudah mulai kelihatan adanya pergeseran perilaku. Ketika ada suatu perubahan teknologi, otomatis pola perilaku sosialnya juga berubah," ujar Almadina. Selasa 30 Juni 2026.
Penetrasi ruang digital ini juga dinilai telah mengaburkan batas antara ruang publik dan ruang privat. Kehadiran gawai (gadget) membuat aktivitas luar rumah kini dengan mudah menyusup ke dalam ruang keluarga, sehingga waktu berinteraksi secara personal dan intim kian tersita.
Almadina menambahkan, interaksi fisik di dalam rumah kini sering kali hanya sebatas raga, namun pikiran masing-masing anggota keluarga berada di tempat lain. Kondisi ini membuat kelekatan psikologis antara anak dan orang tua menjadi rapuh.
"Sekrasang waktu untuk anak dengan berinteraksi dengan orang tua itu semakin sedikit. Ketika ada waktu luang bersama, masing-masing dengan gadget-nya, masing-masing dengan dunianya. Saat ini ruang di luar itu masuk ke dalam rumah. Orang tua tetap bersosialisasi bersama teman-temannya melalui aplikasi WhatsApp, begitu pula anak-anak mereka," tambahnya.
Dampak dari minimnya attachment ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Dalam perspektif psikologi, hilangnya perlekatan emosional berbanding lurus dengan penurunan intensitas komunikasi, yang pada akhirnya dapat memicu kerentanan sosial, termasuk maraknya kasus kekerasan dan eksploitasi seksual pada anak.
Lebih lanjut, Almadina menjelaskan bahwa tanpa fondasi keluarga yang kuat, anak-anak cenderung mencari figur pembelajaran dari media sosial. Akibatnya, mereka kesulitan membedakan hal yang baik dan buruk, bahkan kerap tidak menyadari ketika menjadi korban kejahatan karena adanya normalisasi perilaku menyimpang di dunia maya.
"Ketika tidak ada kedekatan keluarga, tidak ada internalisasi dari orang tua, ya gempuran media ini akan mengganggu pikiran anak. Mereka mungkin tidak sadar bahwa mereka dijadikan objek. Sementara di sisi pelaku, mereka merasa apa yang dilakukan benar karena banyak dinormalisasi oleh pemberitaan atau konten di media," tegasnya.
Sebagai langkah awal penyelamatan karakter anak, Almadina mengingatkan pentingnya bagi orang tua untuk meluangkan waktu khusus yang berkualitas setiap harinya. Menanamkan nilai-nilai moral dan memberikan pemahaman mengenai realitas sosial di luar rumah menjadi benteng utama pertahanan anak.
"Yang pasti sih harus ada waktu khusus ya antara orang tua dengan anak, setidaknya setiap hari itu menyiapkan waktu. Tidak berpikir berapa kuantitasnya, yang pasti kualitasnya. Mau itu 30 menit atau 1 jam, tapi ada isu-isu atau hal-hal yang diinternalisasi oleh orang tua kepada anak terkait masalah-masalah yang sekarang muncul," pungkas Almadina.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....