Perubahan Iklim Jamin Stok Beras Aman, sedangkan Pasokan Sayuran Terancam

  • 18 Jun 2026 18:26 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota Bandung memastikan ketersediaan beras bagi masyarakat masih dalam kondisi aman di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor pangan nasional. Namun, perubahan iklim yang ditandai dengan musim kemarau berkepanjangan menjadi perhatian serius karena berpotensi mengganggu pasokan komoditas hortikultura, terutama sayuran.

‎Wali Kota Bandung, M Farhan, mengatakan bahwa pasokan beras hingga saat ini masih terjamin. Menurutnya, Perum Bulog terus menjaga ketersediaan stok beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

‎“Kalau beras sih, Bulog itu sudah menjamin. Beras tersedia dan selalu ada. Tidak pernah tidak ada,” ujar Farhan, Kamis 18 Juni 2026.

‎Farhan menjelaskan, secara umum beras yang beredar di pasaran terbagi ke dalam tiga kategori. Pertama adalah beras SPHP yang disalurkan Bulog dengan harga yang telah diatur pemerintah untuk menjaga keterjangkauan masyarakat. Kedua adalah beras premium yang banyak dijual di pasar modern maupun ritel modern dengan kualitas yang lebih baik dan menjadi pilihan utama sebagian besar konsumen.

‎“Beras premium ini permintaannya paling tinggi. Harganya memang tidak terlalu murah, tetapi dianggap lebih enak dan sesuai dengan selera masyarakat,” katanya.


‎Sementara kategori ketiga adalah beras khusus yang memiliki kualitas tertentu dengan harga jauh lebih tinggi. Menurut Farhan, harga beras jenis ini bahkan bisa mencapai lebih dari Rp20 ribu per kilogram.

‎Meski stok beras secara keseluruhan tersedia, Farhan mengakui bahwa persoalan yang sering muncul berada pada segmen beras premium. Tingginya permintaan terhadap jenis beras tersebut kerap menimbulkan ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan pasar.

‎“Secara statistik beras ada. Tetapi yang sering dicari masyarakat adalah beras tertentu yang dianggap lebih sesuai dengan selera mereka. Nah, di sinilah biasanya muncul persoalan,” ucapnya.

‎Ia menilai praktik penimbunan yang dilakukan oleh oknum spekulan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan harga beras premium kerap melonjak di pasaran. Menurutnya, para pelaku menahan stok beras dan baru melepasnya ketika harga mengalami kenaikan sehingga dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.

‎“Yang sering dipermasalahkan itu suplai di segmen tengah karena permintaannya paling tinggi. Ini yang kadang dimainkan oleh spekulan melalui penimbunan. Mereka menunggu harga naik baru dilepas ke pasar dengan harga yang lebih tinggi,” jelasnya.


‎Karena itu, Farhan menegaskan pengawasan terhadap distribusi pangan harus diperkuat untuk mencegah praktik penimbunan yang dapat merugikan masyarakat.

‎“Jadi kontrolnya adalah tidak boleh ada penimbunan. Memang itu yang harus dijaga,” tegasnya.

‎Selain persoalan beras, Farhan mengaku lebih mengkhawatirkan dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan sayuran. Menurutnya, musim kemarau yang berkepanjangan dapat menyebabkan produksi sayuran menurun drastis sehingga berpotensi memicu kenaikan harga dan mengganggu pasokan di pasar.

‎“Kalau perubahan iklim, yang saya khawatirkan itu pangan berupa sayuran. Kalau lagi kemarau seperti sekarang, produksinya bisa habis atau berkurang banyak. Itu yang menjadi kekhawatiran,” tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....