Revitalisasi Sekolah Dorong Pendidikan Maju dan Serap Tenaga Kerja

  • 11 Jun 2026 18:31 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Program revitalisasi sekolah yang dijalankan pemerintah tidak hanya menghadirkan ruang belajar yang lebih layak bagi siswa, tetapi juga memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar. Pelaksanaan pembangunan yang melibatkan tenaga kerja lokal dan penggunaan material dari usaha setempat menjadi salah satu penggerak ekonomi di tingkat desa.

Perubahan tersebut terlihat di SD Negeri Leuwibatu 02 dan SD Negeri Leuwibatu 03, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sebelum direvitalisasi, kedua sekolah menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari atap yang bocor, dinding yang mengalami kerusakan, hingga minimnya fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar. Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran berlangsung kurang optimal.

Kini, wajah sekolah berubah signifikan. Bangunan yang lebih representatif, ruang kelas yang nyaman, fasilitas sanitasi yang memadai, serta perabot belajar baru telah menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih kondusif bagi siswa dan guru.

Kepala SDN Leuwibatu 02, Sudrajat, mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pembangunan sekolah.

“Sejak awal pembangunan kami melibatkan masyarakat sekitar. Komite sekolah juga ikut diberdayakan. Alhamdulillah masyarakat memberikan dukungan penuh sehingga proses pembangunan berjalan dengan baik,” ujarnya, dalam keterangan Kemendikdasmen, Kamis 11 Juni 2026.

Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto, SDN Leuwibatu 02 memperoleh enam ruang kelas baru, satu unit toilet, dan rehabilitasi tiga ruang kelas dengan nilai anggaran Rp2,1 miliar. Sementara SDN Leuwibatu 03 menerima pembangunan tiga ruang kelas baru, satu ruang administrasi, serta rehabilitasi empat ruang kelas dengan anggaran Rp1,5 miliar. Saat ini kedua sekolah telah digabung menjadi SDN Leuwibatu 02.

Selain memperbaiki sarana pendidikan, program tersebut dinilai memberi efek berganda terhadap perekonomian lokal. Kehadiran proyek pembangunan membuka peluang kerja bagi warga sekitar sekaligus meningkatkan aktivitas usaha penyedia bahan bangunan dan kebutuhan konstruksi di wilayah setempat.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa revitalisasi sekolah dirancang untuk menghasilkan manfaat yang lebih luas daripada sekadar pembangunan fisik.

“Revitalisasi sekolah tidak hanya membangun sarana pendidikan yang lebih baik, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pelaksanaannya dilakukan secara swakelola dengan mengutamakan tenaga kerja lokal dan pembelian material dari toko-toko di sekitar lokasi,” kata Abdul Mu’ti.

Pemerintah menargetkan revitalisasi 71.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia sepanjang 2026. Dengan asumsi setiap proyek melibatkan sedikitnya 10 tenaga kerja lokal, program tersebut diperkirakan mampu menyerap lebih dari 710 ribu pekerja.

“Potensi penyerapan tenaga kerja sangat besar. Bahkan jumlahnya bisa melebihi 710 ribu orang karena terdapat sekolah-sekolah dengan volume pekerjaan yang lebih besar dan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja,” jelasnya.

Dampak revitalisasi juga dirasakan langsung oleh para guru dan siswa. Guru Kelas 2 SDN Leuwibatu 02, Nurul Komariyah, menuturkan suasana belajar yang lebih nyaman telah meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

“Anak-anak sangat antusias. Mereka lebih semangat belajar dan kami sebagai guru juga lebih bersemangat mengajar. Sebelumnya mereka sering bertanya kapan bisa menggunakan gedung baru. Sekarang mereka sudah bisa belajar dengan nyaman,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menyebut revitalisasi sekolah sebagai bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pendidikan berkualitas hingga ke daerah-daerah yang selama ini menghadapi keterbatasan sarana.

“Ini merupakan wujud nyata perhatian pemerintah terhadap pendidikan. Semua anak Indonesia, termasuk yang berada di wilayah pinggiran, harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas,” kata Pratikno.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....