Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Warga Cimahi Bergerak Hadapi Perubahan Iklim

  • 08 Jun 2026 21:46 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Cimahi - Isu perubahan iklim menjadi sorotan utama dalam Apel Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026 yang digelar Pemerintah Kota Cimahi. Wali Kota Cimahi Ngatiyana memimpin langsung apel yang berlangsung di Lapang Apel Pemkot Cimahi Senin 8 Juni 2026 dengan mengusung tema nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim”.

Kegiatan tersebut diikuti aparatur sipil negara, pelajar, komunitas lingkungan, serta unsur Forkopimda Kota Cimahi. Kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Ngatiyana menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat. Dampaknya sudah dirasakan secara nyata melalui cuaca ekstrem, peningkatan suhu udara, hingga kejadian banjir yang terjadi di berbagai wilayah.

Fenomena anomali iklim juga terlihat dari pola curah hujan yang semakin sulit diprediksi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor yang dapat mengancam keselamatan masyarakat.

“Bekerja untuk iklim tidak cukup hanya menjadi slogan di spanduk, tetapi harus diterjemahkan menjadi aksi nyata yang konsisten dan terukur di lapangan,” ujar Ngatiyana.

Menurutnya, upaya menjaga iklim harus diwujudkan melalui perubahan cara masyarakat mengelola lingkungan. Langkah tersebut mencakup pengurangan sampah, peningkatan kegiatan daur ulang, menjaga kebersihan sungai, hingga memperluas ruang terbuka hijau.

“Bekerja untuk iklim berarti mengubah cara kita mengelola lingkungan dan memastikan setiap kebijakan pembangunan memiliki perspektif keberlanjutan,” katanya.

Ia berharap peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Kesadaran kolektif dinilai menjadi kunci dalam menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.

“Pengelolaan sampah tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah, tetapi harus dimulai dari dapur masing-masing warga,” jelasnya.

Ngatiyana menambahkan bahwa seluruh pihak memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga kelestarian lingkungan. Perubahan perilaku sehari-hari diyakini dapat memberikan dampak besar terhadap upaya pengendalian perubahan iklim di masa mendatang.

“Pada hakikatnya semua orang adalah penghasil sampah, sehingga pengelolaannya merupakan kewajiban bersama yang harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....