Berbagi antar Sesama di Pelosok NTT dan Papua

  • 04 Jun 2026 15:52 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Suasana perayaan Idul Adha tahun 2026 ini terasa berbeda bagi warga Kampung Lamakera, Desa Motonwutun, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Setelah bertahun-tahun tidak melaksanakan penyembelihan hewan kurban di wilayah mereka, untuk pertama kalinya warga di Mushola Baburrahmah, Tanjung Motonwutun, dapat menikmati kurban bersama.

Satu ekor sapi bantuan dari Rumah Amal Salman menjadi hewan kurban pertama yang disembelih di wilayah tersebut setelah sekian lama. Sebelumnya, pelaksanaan kurban biasanya hanya terpusat di Masjid Al Ijtihad, Watobuku, karena keterbatasan akses dan persoalan administrasi wilayah.

Kepala Desa Motonwutun, Mirdan Muhammad, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Rumah Amal karena mereka berkesempatan menjadi mitra kurban. Yaitu untuk menyalurkan kurban di wilayah mereka.

Meski terkendala pendistribusian karena akses ke desa tidak mudah, hewan kurban disambut antusias oleh warga. Maklum saja, dalam keseharian pun mereka jarang mengonsumsi daging merah, karena daerah mereka cenderung tinggal di pesisir pantai, sehingga keseharian hanya bisa mengonsumsi ikan.

“Warga di sini sehari-hari lebih banyak makan ikan. Itu karena tinggal di wilayah pantai. Kalau dihitung, mungkin dalam setahun hanya tujuh sampai sepuluh kali makan daging,” ujar Mirdan kepada RRI melalui pesan elektroniknya, Kamis 4 Juni 2026.

Sapi berbobot sekitar 300 kilogram itu kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada 203 warga. Menurut Mirdan, meski hanya satu ekor sapi, masyarakat merasa sangat bersyukur karena momen kurban memiliki arti penting, bukan hanya secara ekonomi tetapi juga spiritual.

“Momen kurban ini menjadi yang sangat ditunggu oleh warga. Terlebih kami juga ingin menjalankan sunnah para nabi, dimana kurban dimaknai bukan hanya tentang menyembelih, tetapi juga sebagai bentuk refleksi ketaatan, keikhlasan, dan kesabaran dalam menghadapi dinamika kehidupan sosial,”

Ia juga menambahkan harapan agar kehadiran Rumah Amal Salman tidak berhenti tahun ini. Semoga penyaluran kurban ke wilayahnya dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang sehingga masyarakat di daerah terpencil tetap dapat merasakan kebahagiaan Idul Adha.

Selain kisah Lamakera NTT, kisah inspiratif penyaluran pelosok lainnya juga ada di Darul Abror Desa Majener, Papua Barat. Di wilayah yang mayoritas penduduknya nonmuslim itu, pelaksanaan kurban memerlukan koordinasi dan izin dari tokoh setempat.

Penanggung jawab penyaluran kurban Darul Abror, Dzikri Syahrial Habibi, mengatakan umat Islam di wilayah tersebut tetap berupaya menjaga tradisi dan syiar Islam melalui pelaksanaan kurban. “Walaupun kami minoritas, kami ingin tetap menghidupkan budaya Islam dan berbagi kepada sesama, termasuk salah satunya melalui momen kurban ini,” ujar Dzikri.

Ia menambahkan, daging kurban tidak hanya dibagikan kepada warga Muslim, tetapi juga kepada tetangga non muslim di sekitar pesantren. Menurut dia, hal itu menjadi simbol kebersamaan dan toleransi antar warga.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....