Warga Kota Bandung Diminta Aktif Cegah Kebakaran sejak Dini
- 31 Mei 2026 10:50 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Kota Bandung masih menghadapi ancaman kebakaran yang dapat terjadi kapan saja, terutama di kawasan permukiman padat penduduk. Meski jumlah kasus kebakaran mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak lengah dan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi penyebab kebakaran di lingkungan sekitar.
Kepala Bidang Pencegahan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kota Bandung, Adhli Al-Afwan Izwari, menegaskan, masyarakat memiliki peran yang sangat besar dalam upaya pencegahan kebakaran. Menurutnya, sebagian besar peristiwa kebakaran yang terjadi selama ini dipicu oleh aktivitas sehari-hari yang sebenarnya dapat dicegah jika warga lebih berhati-hati.
Ia menjelaskan, lebih dari 60 persen kasus kebakaran berasal dari lingkungan rumah tangga. Beberapa penyebab yang paling sering ditemukan antara lain penggunaan instalasi listrik yang tidak aman, kebocoran tabung atau saluran gas, hingga kebiasaan membakar sampah tanpa pengawasan yang memadai.
Selain pencegahan, Adhli juga menyoroti pentingnya pelaporan cepat ketika muncul tanda-tanda kebakaran. Ia menilai masih banyak warga yang baru menghubungi petugas setelah api membesar sehingga proses penanganan menjadi lebih sulit.
“Kadang masyarakat baru menelepon kami, ketika api sudah membesar. Padahal kalau pelaporan dilakukan lebih cepat, penanganan juga bisa lebih maksimal,” katanya, Sabtu, 30 Mei 2026.
Dari sisi kesiapsiagaan, Disdamkarmatan Kota Bandung telah berupaya meningkatkan kecepatan layanan penanganan kebakaran. Berdasarkan standar yang ditetapkan Kementerian Dalam Negeri, waktu tanggap ideal petugas pemadam kebakaran adalah 15 menit.
Sementara itu, Kota Bandung saat ini mampu mencatat rata-rata waktu respons sekitar 8 menit 39 detik, atau jauh lebih cepat dari standar yang ditentukan.
Untuk mendukung kecepatan tersebut, Disdamkarmatan telah menempatkan empat Unit Pelaksana Teknis (UPT) di sejumlah wilayah strategis Kota Bandung. Pos-pos layanan tersebut tersebar di kawasan timur, utara, barat, dan selatan sehingga petugas dapat menjangkau lokasi kejadian dengan lebih cepat dan efektif.
Meski memiliki kemampuan respons yang baik, Adhli menegaskan fokus utama instansinya saat ini bukan hanya pemadaman kebakaran. Menurutnya, langkah pencegahan dan peningkatan kapasitas masyarakat justru menjadi prioritas utama.
"Kami sekarang tidak hanya fokus pada pemadaman, tapi lebih kepada bagaimana masyarakat bisa siap siaga dan melakukan pencegahan sejak awal,” ujar Adhli
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Disdamkarmatan secara rutin menggelar program edukasi dan pelatihan kebencanaan bagi berbagai kalangan. Kegiatan ini menyasar sekolah, komunitas, hingga lingkungan RT dan RW agar warga memahami cara mencegah kebakaran sekaligus mengetahui langkah penanganan awal sebelum petugas tiba di lokasi.
Menjelang musim kemarau panjang yang diperkirakan berlangsung mulai Juni hingga September 2026, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan. Kondisi cuaca yang lebih kering dinilai dapat memperbesar risiko munculnya kebakaran, terutama yang berasal dari tumpukan sampah kering maupun vegetasi seperti alang-alang.
"Kondisi cuaca kering berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, terutama dari alang-alang dan sampah kering di lingkungan sekitar,” ungkap Adhli.
Disdamkarmatan Kota Bandung turut membuka kesempatan bagi warga, sekolah, maupun komunitas yang ingin mengikuti pelatihan penanggulangan kebakaran. Permohonan pelatihan dapat diajukan secara resmi ke kantor Disdamkarmatan Kota Bandung di Jalan Sukabumi.
Dengan meningkatnya pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat, diharapkan risiko kebakaran dapat ditekan semaksimal mungkin meskipun angka kejadian saat ini telah menurun sekitar 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....