Program SMK 3+1 Disiapkan Jawab Tantangan Kerja Global

  • 30 Mei 2026 18:04 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Indonesia tengah menghadapi dua realitas yang berjalan beriringan. Di satu sisi, bonus demografi menghadirkan jumlah angkatan kerja usia produktif yang melimpah. Namun di sisi lain, kesiapan kompetensi, kemampuan bahasa asing, hingga pemahaman budaya kerja internasional masih menjadi tantangan besar yang dapat menghambat daya saing lulusan di pasar kerja global.

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam webinar bertajuk “SMK Berani Mendunia: Sekolah di Indonesia Berkarier di Dunia” yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jumat 29 Mei 2026. Kegiatan ini menyoroti pentingnya transformasi pendidikan vokasi agar mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja dunia yang terus meningkat.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menilai peluang kerja di luar negeri bagi lulusan SMK semakin terbuka karena banyak negara maju mengalami kekurangan tenaga kerja produktif. Jepang, Korea Selatan, Jerman, hingga sejumlah negara Timur Tengah membutuhkan tenaga kerja terampil dalam berbagai sektor.

Meski peluang terbuka lebar, Tatang menegaskan bahwa tantangan utama terletak pada kesiapan kompetensi lulusan. Menurutnya, dunia kerja global tidak hanya membutuhkan tenaga kerja yang menguasai keterampilan teknis, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, disiplin, serta kemauan belajar yang tinggi.

“Pertanyaannya bukan lagi ada atau tidaknya peluang kerja, tetapi apakah kompetensi kita siap bersaing secara global. Pendidikan vokasi menjadi kunci untuk menjawab tantangan tersebut,” ujarnya.

Sebagai solusi, Kemendikdasmen menghadirkan Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1 yang diatur melalui Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 64 Tahun 2026. Program ini dirancang untuk memperkuat kesiapan lulusan SMK yang ingin berkarier di luar negeri.

Direktur Sekolah Menengah Kejuruan, Arie Wibowo Khurniawan, menjelaskan bahwa model 3+1 memberikan ruang bagi sekolah untuk menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan negara tujuan kerja. Tiga tahun pertama difokuskan pada penguasaan kompetensi keahlian, sementara satu tahun tambahan digunakan untuk memperkuat kemampuan bahasa asing, sertifikasi kompetensi, kesiapan fisik dan mental, serta literasi hukum dan keuangan.

Menurut Arie, berbagai kendala yang selama ini sering dihadapi calon pekerja migran, seperti keterbatasan bahasa, minimnya pemahaman regulasi, hingga kurangnya kesiapan budaya kerja, menjadi alasan pentingnya program tersebut.

“Peluang kerja luar negeri sangat besar, tetapi harus diimbangi dengan kesiapan yang matang. Bahasa, kompetensi, sertifikasi, dan perlindungan menjadi faktor utama yang harus dipenuhi,” katanya.

Selain penguatan kurikulum, Kemendikdasmen juga membangun ekosistem pendukung melalui transformasi tata kelola SMK, penguatan kemitraan dengan dunia industri, serta layanan pendampingan bagi peserta didik. Langkah ini dilakukan agar proses penyiapan tenaga kerja tidak berhenti di sekolah, tetapi berlanjut hingga tahap penempatan dan perlindungan pekerja.

Implementasi program tersebut mulai dirasakan sejumlah sekolah. Salah satunya SMKN 1 Mundu, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, yang menjadi penerima Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1.

Kepala SMKN 1 Mundu, Sri Handayani, mengatakan bahwa sekolah memanfaatkan jejaring alumni yang telah bekerja di luar negeri untuk memberikan motivasi sekaligus gambaran nyata mengenai dunia kerja internasional kepada siswa. Selain itu, sekolah juga menghadirkan praktisi industri sebagai guru tamu untuk memperkenalkan budaya kerja dan etos profesional yang dibutuhkan di negara tujuan.

Menurut Sri, tantangan terbesar sering kali bukan hanya kesiapan siswa, tetapi juga pemahaman orang tua mengenai peluang dan keamanan bekerja di luar negeri. Karena itu, sekolah secara rutin melakukan komunikasi dengan keluarga peserta didik untuk memastikan seluruh proses berjalan dengan baik.

“Kami tidak hanya mempersiapkan siswa sebelum berangkat, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan pendampingan dan perlindungan selama bekerja di negara tujuan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....