FGD di Gudang Bulog Jabar: Kampus Diajak Wujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan
- 23 Mei 2026 20:14 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Cimahi – Perum Bulog menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema "Peran Kampus dalam Mewujudkan Swasembada Pangan Berkelanjutan untuk Cadangan Pangan Pemerintah" di gudang utama Perum Bulog Jawa Barat, Kota Cimahi, Sabtu 23 Mei 2026.
Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung, di antaranya Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Muhammadiyah Bandung, dan kampus lainnya. Dalam kegiatan itu, para mahasiswa diajak melihat langsung stok cadangan beras pemerintah yang dikelola Bulog sekaligus berdiskusi mengenai ketahanan pangan nasional.
Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, FGD tersebut menjadi bagian dari upaya edukasi kepada generasi muda mengenai pentingnya swasembada pangan, khususnya beras, di tengah dinamika global dan perubahan iklim yang terjadi saat ini.
“Dalam kegiatan FGD ini kita mengajak dan memperlihatkan stok beras kita kepada para mahasiswa Bandung, dari UPI, Muhammadiyah, dan lainnya. Kita juga berdiskusi tentang ketahanan pangan khususnya swasembada beras,” ujar Dirut.
Menurutnya, kondisi stok beras nasional saat ini menunjukkan bahwa program swasembada pangan benar-benar nyata dan berjalan dengan baik.
“Ini memperlihatkan bahwa swasembada pangan itu nyata, yang dikelola Bulog, dan stoknya mencapai 5,37 juta ton pada Mei 2026. Ini tertinggi dalam sejarah Indonesia merdeka. Stok ini menjamin kebutuhan pangan beras sampai pertengahan 2027,” katanya.
Ia menambahkan, di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan ketidakpastian pangan dunia, Indonesia dinilai memiliki ketahanan pangan yang cukup kuat dengan dukungan stok beras nasional yang melimpah.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Rizal Ramdhani juga mengajak para tengkulak untuk bergabung dalam ekosistem penyerapan gabah nasional bersama Bulog. Nantinya, para tengkulak akan difungsikan sebagai transporter gabah dari petani menuju penggilingan.
“Tengkulak kita fungsikan sebagai transporter. Tugas mereka mengangkut gabah yang sudah Bulog beli ke penggilingan. Transporter mendapatkan kompensasi Rp200 per kilogram,” jelasnya.
Terkait isu impor beras, Bulog menegaskan bahwa sejak tahun 2025 hingga saat ini Indonesia sudah tidak melakukan impor beras karena kebutuhan nasional dinilai telah tercukupi dari produksi dalam negeri.
Selain itu, Perum Bulog juga terus mengembangkan teknologi penyimpanan beras bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Teknologi tersebut memungkinkan beras dapat disimpan lebih lama tanpa mengalami penurunan kualitas.
“Melalui teknologi penyinaran seperti memanfaatkan sinar gamma, itu bisa menyimpan beras kurang lebih tiga tahun,” ungkapnya.
Ke depan, Perum Bulog akan terus mengoptimalkan berbagai program sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia mampu mandiri pangan sekaligus menjadi negara pengekspor beras ke berbagai negara.
Sementara itu, salah seorang mahasiswa dari UPI Bandung mengaku optimistis terhadap kondisi ketahanan pangan nasional setelah melihat langsung gudang penyimpanan Bulog di Jawa Barat.
“Tadi dibuktikan bahwa kualitas beras lokal bagus dan sangat layak untuk disalurkan. Menurut kami swasembada pangan betul adanya,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....