Pemprov Jabar Waspadai Lonjakan Harga Daging Sapi di Pasar
- 22 Mei 2026 11:31 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menaruh perhatian serius terhadap kenaikan harga daging sapi yang mulai membebani masyarakat, ditambah aksi mogok sejumlah pedagang. Pemprov menegaskan tidak akan tinggal diam bila lonjakan harga melewati batas kewajaran, bahkan siap menggelar operasi pasar maupun pasar bersubsidi apabila inflasi mendekati ambang psikologis.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, menyampaikan pihaknya tengah melakukan pengecekan langsung ke lapangan menyusul laporan harga daging sapi yang disebut telah menyentuh Rp160 ribu per kilogram di sejumlah daerah.
“Kami akan cek dulu. Sampai hari ini inflasi di Jawa Barat masih terkendali. Rentangnya 1,5 sampai 3,5 persen, dengan posisi ideal di 2,5 persen,” ujar Herman di Bandung, Kamis 21 Mei 2026.
Menurutnya, inflasi Jawa Barat sejauh ini masih berada di kisaran 2 persen. Namun pemerintah tetap waspada terhadap dinamika harga kebutuhan pokok, khususnya menjelang Iduladha yang kerap memicu lonjakan permintaan.
“Tempo hari inflasi masih di kisaran 2 persen. Kami akan cek ricek, apakah sudah naik ke 3 persen atau tetap di 2 persen. Nanti kami informasikan,” katanya.
Herman menegaskan, Pemprov Jabar memiliki batas kewaspadaan terhadap laju inflasi. Jika angka bergerak mendekati 3 persen hingga menyentuh 3,5 persen, pemerintah akan segera turun tangan bersama 27 kabupaten/kota.
Khusus harga daging sapi, ia mengaku belum ingin berspekulasi sebelum tim melakukan verifikasi lapangan. “Sekarang posisinya ada di angka berapa? Rp130 ribu, Rp140 ribu, atau Rp160 ribu? Kami harus cek ke pasar di Bandung, Sumedang, Majalengka. Nanti kami ricek kroscek,” ungkapnya.
Apabila hasil pengecekan menunjukkan harga melampaui rata-rata normal, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat akan langsung bergerak melakukan intervensi. “Disperindag akan turun dengan pasar bersubsidi, pasar murah, operasi pasar, dan lain sebagainya. Kita kerjasama dengan asosiasi,” jelas Herman.
Ia menambahkan, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah menginstruksikan jajaran birokrasi untuk menjaga tiga indikator utama stabilitas ekonomi masyarakat, yakni harga terjangkau, ketersediaan pasokan, serta kelancaran distribusi barang.
“Pak Gubernur sangat concern. Beliau menginstruksikan agar harga tetap terjangkau, pasokan tersedia, dan transportasi lancar. Kami menjaga tiga-tiganya,” lanjut Herman.
Sekda meminta masyarakat tetap tenang menghadapi dinamika harga di pasar. “Kalau ada dinamika harga, masyarakat tenang. Pemprov akan berada di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, data Disperindag Jabar per 18 Mei 2026 menunjukkan daging sapi menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan baik dibandingkan pekan lalu maupun bulan sebelumnya.
Secara mingguan, komoditas yang naik meliputi beras medium, beras premium, gula pasir curah, minyak goreng premium, daging sapi, kedelai impor, cabai rawit merah, cabai merah besar, bawang merah, dan bawang putih honan. Kenaikan tertinggi tercatat pada cabai merah besar sebesar 5,37 persen.
Adapun secara bulanan, kenaikan harga terjadi pada beras medium, gula pasir curah, daging sapi, daging ayam ras, kedelai impor, cabai, dan bawang merah. Cabai merah keriting tercatat naik tertinggi hingga 15,92 persen.
Disperindag juga mencatat beberapa komoditas masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) atau Harga Acuan Penjualan (HAP), di antaranya gula pasir, daging sapi, kedelai impor, dan cabai rawit merah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....