Gubernur Jabar Minta Bandung Kinclong, Andri: Tamparan Keras untuk Pemkot
- 17 Mei 2026 17:18 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi meminta Kota Bandung Kinclong (Mengkilap) hal tersebut di ungkapkannya Dalam pidato penutup Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. Dedi menegaskan bahwa Kota Bandung harus tampil bersih, indah, dan tertata.
“Bandung urang kinclongkeun. Teu kenging aya jalan nu renjul, teu kenging aya trotoar nu kotor, teu kenging aya saluran air nu mampet. Warga Bandung urang bungahkeun,” tegasnya.
Instruksi tersebut bukan sekadar slogan. Dedi menyebutkan titik-titik rawan yang harus segera dibenahi, mulai dari Lembang, Setiabudi, Sukajadi, hingga kawasan Cicadas, Pasir Koja, Pasteur, dan Gasibu. Baginya, wajah Bandung harus mencerminkan kebanggaan warganya, dengan penerangan jalan umum yang menyala penuh dan lingkungan kota yang rapi.
Pernyataan Gubernur itu dinilai, Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung sekaligus Ketua DPC PDIP Kota Bandung, Andri Gunawan, menjadi tamparan keras bagi pemerintah kota. Menurut Andri, instruksi tersebut menunjukkan lemahnya kinerja pemerintah kota yang kini sudah menjabat lebih dari 1 setengah tahun.
“Seolah-olah gubernur merangkap jadi wali kota. Itu bukti pemerintah kota tidak responsif, tidak gercep, dan tidak berempati terhadap situasi memprihatinkan di masyarakat,” ujarnya. Minggu 17 Mei 2026.
Andri mengungkapkan fakta lapangan yang mencolok masih banyak jalan bergelombang di sekitar Balai Kota yang terkesan dibiarkan rusak lebih dari setahun, meski sudah menimbulkan korban jatuh. Belum lagi masalah drainase yang tidak layak sehingga masih sering meluap ke jalan saat hujan besar, termasuk banyaknya ruas jalan yang gelap saat malam tiba.
“Kok bisa-bisanya jalan di pusat kekuasaan dibiarkan begitu? Ini bukti nyata pemerintah kota lamban bekerja,” tegasnya.
Kritik ini memperlihatkan bahwa masalah infrastruktur dasar belum menjadi prioritas utama.
Selain itu, alasan klasik pemerintah kota soal keterbatasan anggaran dinilai tidak relevan. Menurut Andri, tahun lalu terdapat Silpa (sisa lebih penggunaan anggaran) yang cukup besar.
“Anggaran untuk seminar, FGD, peresmian ada. Tapi untuk jalan mulus, lampu terang, trotoar rapi, katanya tidak ada. Itu alasan yang tidak bisa dibenarkan,” kritiknya.
Pernyataan ini menyoroti ketidakseimbangan dalam penggunaan anggaran publik. Andri juga menyinggung evaluasi yang sempat viral di YouTube, ketika Gubernur memanggil Wali Kota, Sekda, dan Kepala Bappeda ke Gedung Sate.
“Itu sudah menjadi peringatan keras. Kalau pemerintah kota tidak segera berbenah, maka wajah Bandung akan terus dipermalukan di forum terbuka,” katanya. Kritik ini mempertegas bahwa masalah Bandung bukan sekadar teknis, tetapi juga soal kepemimpinan dan komitmen.
Meski keras, Andri menegaskan jika pemerintah memang serius ingin membenahi Kota untuk kepentingan masyarakat bukan sekedar ceremony apalagi proyek semata, dukungan dari DPRD pun akan senantiasa mengikuti dan bisa dilakukan dalam Anggaran Perubahan. “Kalau ada pengajuan perubahan anggaran untuk kepentingan masyarakat, kami sangat mendukung. Tapi kalau bekerjanya begini terus, mau dipuji di sebelah mananya?” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....