Launching Campernik: Perempuan Berdaya, Budaya Tetap Terjaga
- 09 Mei 2026 20:21 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Ketua Yayasan Gemintang Suara Campernik, Rafih Sri Wulandari, menegaskan bahwa kehadiran Campernik menjadi ruang motivasi bagi perempuan untuk tampil berdaya sekaligus berbudaya. Melalui launching yang digelar, Rafih menekankan pentingnya perempuan mengenali jati diri, serta mampu berkiprah di bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
“Campernik itu salah satu lembaga motivasi perempuan terkait perempuan berdaya dan berbudaya. Fokus kami adalah bagaimana perempuan bisa mengenali dirinya, mengetahui jati dirinya, dan berdaya sesuai versinya masing-masing,” ujar Rafih seusai Launching Yayasan Gemintang Surya Campernik di Gedung Indonesia Menggugat Bandung, Sabtu 9 Mei 2026.
Nama Campernik sendiri, lanjut Rafih, merupakan akronim dari cantik, menarik, mandiri, dan unik. Menurutnya, meski terdengar sederhana, nama tersebut merepresentasikan bagaimana perempuan hadir dengan keunikan dan kekuatan masing-masing. “Itu clue-nya, bagaimana perempuan hadir berdaya dan berbudaya,” tambahnya.
Tema “Panggil Aku Perempuan” yang diangkat dalam diskusi panel dalam kegiatan tersebut, menjadi refleksi atas posisi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Rafih menilai, perempuan selalu menjadi bahasan menarik, baik dalam politik, seni, maupun budaya. Kehadiran tokoh politik perempuan dan budayawan Eros Diarso dalam acara tersebut semakin memperkaya perspektif tentang kontribusi perempuan.
Dalam bidang politik, Rafih menekankan pentingnya pendidikan politik bagi perempuan. Ia menyebut pemerintah telah memberikan dukungan melalui berbagai regulasi, termasuk affirmative action dalam Undang-Undang Pemilu 2017 yang menetapkan kuota 30 persen keterwakilan perempuan. “Ada banyak payung hukum yang sudah dibuat, termasuk perda untuk penguatan ekonomi perempuan,” jelasnya.
Meski demikian, Rafih menyoroti bahwa masalah perempuan masih kompleks. Diskriminasi, kesehatan mental, hingga budaya patriarki masih menjadi tantangan yang harus dihadapi. “Walaupun sudah banyak dukungan dari pemerintah, budaya patriarki di Indonesia masih tetap berjalan,” tegasnya.
Rafih memastikan ketika Perempuan berdaya tidak berarti melupakan kodratnya sebagai ibu maupun istri. “Perempuan tetap bisa menjadi dirinya sendiri, tetap memiliki karya tanpa mengesampingkan kodratnya. Tetap menghormati suami, tetap menghormati dirinya sebagai perempuan yang bermanfaat bagi semua orang,” katanya.
Ke depan, Rafih menilai ada dua hal penting yang perlu ditingkatkan pemerintah, yakni pendidikan politik dan budaya sadar hukum. Campernik juga membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat, lembaga, maupun pemerintah. “Kami sangat membuka ruang. Hari ini ada juga layanan kesehatan gratis, dukungan dari Walhi, KPU, dan pemerintah. Mudah-mudahan Campernik bisa memberikan warna tersendiri dalam menyelesaikan permasalahan perempuan di Jawa Barat,” ungkapnya.
Tidak hanya kegiatan diskusi panel saja, dalam launching yayasan Campernik, pemeriksaan kesehatan gratis berkolaborasi dengan Herspace menjadi bukti kolaborasi nyata yang akan terus dilakukan Campernik untuk meningkatkan keadilan bagi perempuan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....