Wali Kota Bandung Akui Kritikan Terkait Pengelolaan Sampah
- 30 Apr 2026 14:00 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menanggapi berbagai kritik masyarakat terkait pengelolaan sampah di Kota Bandung, baik untuk sampah organik maupun sampah rumah tangga. Ia mengakui bahwa hingga saat ini, upaya pengelolaan yang dilakukan pemerintah masih terbatas pada skala wilayah dan rumah tangga.
Menurut Farhan, berbagai program yang telah berjalan seperti pengolahan sampah berbasis kewilayahan, termasuk metode maggotisasi dan gerakan Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan), masih belum mampu menjangkau skala besar.
“Semua upaya yang kita lakukan skalanya memang belum besar, masih di tingkat kewilayahan dan rumah tangga. Kritik bahwa selama ini hanya bisa angkut dan buang, ya memang itu yang terjadi,” ujar Farhan, Kamis 30 April 2026.
Ia menjelaskan, pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga saat ini baru mampu menangani sekitar 22 persen dari total volume sampah harian di Kota Bandung. Sementara itu, pengolahan dalam kapasitas besar masih sangat terbatas.
Pemerintah Kota Bandung, lanjutnya, mengandalkan fasilitas insinerator untuk pengolahan sampah skala besar. Namun kapasitasnya saat ini baru mencapai sekitar 150 ton per hari. Secara keseluruhan, total sampah yang dapat dikelola baru mencapai sekitar 400 ton per hari.
Di sisi lain, sebagian besar sampah Kota Bandung masih bergantung pada pembuangan ke TPA Sarimukti. Dalam satu minggu, kuota pengiriman ke TPA tersebut mencapai sekitar 980 ton per hari. Namun, kuota tersebut telah habis lebih cepat dari jadwal.
“Kuota mingguan itu sudah habis di hari Kamis. Artinya, Jumat, Sabtu, dan Minggu tidak ada pengangkutan sampah ke Sarimukti,” jelasnya.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penumpukan sampah hingga sekitar 5.000 ton dalam tiga hari ke depan. Untuk mengantisipasi hal itu, Pemerintah Kota Bandung mengambil langkah penutupan sementara Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
Farhan pun mengimbau seluruh warga serta aparat kewilayahan, termasuk lurah dan perangkat setempat, untuk melakukan musyawarah dan mengelola sampah secara mandiri di lingkungan masing-masing selama tiga hari ke depan.
“Supaya tidak terjadi penumpukan besar-besaran, jangan buang sampah ke pinggir jalan. TPS sudah kita tutup sementara. Jadi kelola dulu di wilayah masing-masing,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan sampah organik di tingkat lokal, seperti melalui komposting atau metode sederhana lainnya, guna mengurangi volume sampah yang harus diangkut.
Langkah darurat ini diharapkan dapat menekan dampak penumpukan sampah sekaligus mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah berbasis sumber.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....