Bandung Targetkan Jadi Pusat Edukasi Mitigasi Bencana Asia

  • 26 Apr 2026 21:16 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota Bandung menargetkan kota ini menjadi pusat pembelajaran mitigasi bencana tingkat Asia. Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bandung, M. Farhan, saat membuka kegiatan Ngabandungan Bandung – Festival Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026 di Balai Kota Bandung, Minggu 26 April 2026.

‎Farhan menegaskan, Kota Bandung memiliki karakter kerentanan bencana yang serupa dengan sejumlah kota di kawasan Asia, khususnya negara kepulauan seperti Jepang dan Filipina. Oleh karena itu, menurutnya, penting bagi Bandung untuk terus belajar dan berkolaborasi secara internasional.

‎“Kota Bandung minimal harus se-Asia. Karena banyak kota dengan karakter bencana yang sama seperti kita. Kita harus belajar dari Jepang, Filipina, dan negara lain yang memiliki kerentanan serupa,” ujar Farhan saat Kegiatan Ngabandungan Bandung – Festival Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026 di Balai Kota Bandung, Minggu 26 April 2026.0⁰

‎Ia juga menyebutkan bahwa cita-cita tersebut menjadi agenda yang harus mulai diwujudkan pada tahun depan, dengan dukungan berbagai pihak, termasuk DPRD Kota Bandung. Farhan turut mengapresiasi kerja keras panitia dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan festival tersebut.

‎“Terima kasih kepada seluruh panitia, organizer, dan pengisi acara. Semoga kegiatan ini menjadi awal yang baik untuk meningkatkan kesadaran bersama,” katanya.

‎Sementara itu, Founder Sesar Lembang Kalcer sekaligus CEO Sembilan Matahari, Adi Panuntun, menyoroti urgensi kesiapsiagaan bencana di Bandung yang berada di wilayah rawan gempa akibat keberadaan Sesar Lembang.

‎Ia menjelaskan, patahan aktif sepanjang 29 kilometer yang membentang dari Padalarang hingga Gunung Manglayang tersebut berpotensi memicu gempa berkekuatan 6,5 hingga 7 magnitudo. Dengan jumlah penduduk lebih dari 9 juta jiwa di kawasan Cekungan Bandung, kesiapsiagaan dinilai bukan lagi sekadar imbauan, melainkan kebutuhan mendesak.

‎“Ini bukan lagi sekadar ajakan, tetapi sudah menjadi darurat budaya. Kesadaran mitigasi harus dibangun secara kolektif,” ujarnya.

‎Melalui kolaborasi antara gerakan Sesar Lembang Kalcer, Sembilan Matahari, dan BPBD Kota Bandung, festival ini menghadirkan pendekatan edukasi yang berbeda. Balai Kota Bandung disulap menjadi ruang kontemplasi publik melalui pertunjukan video mapping imersif bertajuk “Oray Tapa”.

‎Pertunjukan tersebut menggabungkan data ilmiah dengan narasi budaya lokal, terinspirasi dari kearifan Nusantara seperti tradisi Smong di Pulau Simeulue yang terbukti mampu menyelamatkan puluhan ribu jiwa saat tsunami 2004.

‎Melalui pendekatan kreatif ini, masyarakat diajak memahami mitigasi bencana dengan cara yang lebih inklusif dan tidak menimbulkan kepanikan. Festival ini juga diharapkan mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap bencana, dari rasa takut menjadi kesadaran dan kesiapsiagaan.

‎“Urgensi Sesar Lembang hari ini adalah panggilan bagi kreativitas kita semua. Kekuatan utama Bandung ada pada sumber daya kreatifnya, dan itu yang harus kita manfaatkan,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....