Kenaikan Harga BBM, Pemkot Bandung Siapkan Strategi Baru Pengelolaan Sampah

  • 24 Apr 2026 14:22 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah, menyusul lonjakan biaya bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional armada pengangkut sampah. Kenaikan harga solar non-subsidi yang digunakan truk sampah berdampak signifikan terhadap biaya operasional dan mendorong pemerintah untuk segera menyusun strategi baru yang lebih efisien.

‎Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa seluruh truk pengangkut sampah saat ini menggunakan solar non-subsidi, yang harganya melonjak dari sekitar Rp14.000 menjadi Rp23.000 per liter. Kenaikan sebesar Rp9.000 tersebut membuat biaya BBM hampir dua kali lipat dibanding sebelumnya.

‎“Artinya biaya BBM untuk pengangkutan sampah itu naik dua kali lipat. Sehingga kami memang harus memikirkan sebuah cara untuk memastikan efektivitas sistem pengangkutan tetap berjalan dengan baik,” ujar Farhan, Jumat 24 April 2026.

‎Di tengah tekanan biaya tersebut, Pemkot Bandung juga dihadapkan pada kebijakan pengurangan kuota pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hal ini merupakan bagian dari upaya nasional untuk menghapus praktik open dumping atau pembuangan terbuka.

‎Sebagai langkah konkret, Farhan menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta guna menyusun roadmap pengelolaan sampah yang lebih terarah. Targetnya, pada akhir tahun 2026, sistem pengelolaan sampah di Bandung sudah tidak lagi bergantung pada TPA.

‎“Kita harus mulai menyusun dari sekarang. Mumpung masih ada waktu sekitar enam bulan, agar di akhir tahun kita sudah tidak punya TPA lagi,” tegasnya.

‎Untuk mencapai target tersebut, Pemkot Bandung akan memperkuat pengelolaan sampah dari hulu. Farhan menargetkan peningkatan kapasitas pengolahan sampah sebesar 100 hingga 200 ton per hari pada akhir Mei 2026.

‎Saat ini, dari total produksi sampah harian sekitar 1.800 ton, baru sekitar 300 ton yang dapat dikelola. Dengan tambahan kapasitas 200 ton, diharapkan jumlah sampah yang terolah bisa mencapai 500 ton per hari. Namun demikian, masih terdapat sekitar 1.300 ton sampah yang perlu dicarikan solusi pengelolaannya.

‎Selain itu, Farhan juga menanggapi kondisi antrean truk sampah yang kerap menginap di area TPA. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya kepadatan akibat pembatasan kuota, serta tingginya volume sampah dari daerah lain.

‎“Yang membawa sampah ke TPA bukan hanya dari Kota Bandung, tapi juga dari Bandung Barat, Kabupaten Bandung, dan Cimahi. Jadi antreannya memang lebih panjang,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....