Fenomena Ikan Sapu-Sapu di Jakarta, Ancaman Ekosistem dan Kesehatan Publik
- 23 Apr 2026 16:12 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Fenomena maraknya ikan sapu-sapu di perairan Jakarta belakangan ini menjadi sorotan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan melakukan penangkapan besar-besaran terhadap spesies invasif tersebut. Pada 17 April 2026, petugas gabungan berhasil menangkap sekitar 68.880 ekor ikan sapu-sapu dengan total berat mencapai 6,98 ton.
Penelitian menunjukkan, ikan sapu-sapu mampu bertahan hidup di lingkungan dengan kualitas air buruk dan cenderung mendominasi perairan tercemar seperti Sungai Ciliwung. Kondisi ini menjadi indikator menurunnya kualitas ekosistem sungai sekaligus terdesaknya spesies ikan lokal.
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mengingatkan bahwa persoalan ini tidak hanya terkait aspek lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi ancaman kesehatan masyarakat. “Ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar berisiko mengandung logam berat seperti timbal, merkuri, dan kadmium. Zat ini berbahaya jika masuk ke rantai konsumsi manusia,” ujarnya dalam keterangan media, Kamis 23 April 2026.
Netty menyoroti potensi penyalahgunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan pangan olahan murah oleh oknum tidak bertanggung jawab. “Risiko kesehatan dari paparan logam berat bersifat jangka panjang dan sering tidak terdeteksi sejak awal. Kita tidak boleh menunggu sampai ada korban,” tegasnya.
Ia mendesak pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, BPOM, serta pemerintah daerah untuk segera melakukan inspeksi lapangan terhadap jajanan dan produk pangan olahan di Jakarta. “Perlu ada pengawasan langsung, termasuk pengujian sampel makanan dan penelusuran bahan baku, agar masyarakat terlindungi dari bahan berbahaya,” tambahnya.
Selain itu, Netty menekankan bahwa penanganan ikan sapu-sapu tidak cukup dengan penangkapan massal. Pemerintah diminta lebih serius memperbaiki kualitas sungai sebagai solusi jangka panjang. “Kemunculan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar adalah gejala dari sungai yang tercemar. Selama kualitas air tidak diperbaiki, spesies invasif akan terus mendominasi dan ikan lokal semakin terdesak,” jelasnya.
Ia juga mendorong peningkatan edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha terkait keamanan pangan. “Masyarakat perlu lebih waspada terhadap produk makanan yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, pelaku usaha harus dibina agar tidak menggunakan bahan berisiko,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....