Tekan Pengangguran, Pemkot Bandung Perkuat Kursus dan Pelatihan

  • 22 Apr 2026 15:23 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperkuat peran lembaga kursus dan pelatihan sebagai langkah strategis dalam menekan angka pengangguran sekaligus menjawab kesenjangan antara pendidikan formal dan kebutuhan dunia kerja.

‎Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa keberadaan lembaga kursus dan pelatihan memiliki peran krusial dalam menjembatani ketidaksesuaian (mismatch) yang selama ini terjadi di pasar tenaga kerja. ‎“Peran kursus dan pelatihan sangat penting, terutama untuk menjembatani ketidaksesuaian antara pendidikan formal dan kebutuhan lapangan pekerjaan,” ujar Farhan, Rabu 22 April 2026.

‎Ia menjelaskan, fenomena mismatch bukan hanya terjadi di Kota Bandung, tetapi juga menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia. Banyak lulusan pendidikan formal yang belum sepenuhnya memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga berdampak pada tingginya angka pengangguran.


‎Karena itu, penguatan lembaga kursus dan pelatihan dinilai menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang lebih adaptif dan siap kerja. ‎Dalam implementasinya, Pemkot Bandung menggandeng berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker), serta mendapat dukungan dari DPRD Kota Bandung.

Kolaborasi ini difokuskan pada perluasan akses masyarakat terhadap program pelatihan berbasis kompetensi. ‎Program tersebut menyasar masyarakat usia produktif agar memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja, mulai dari sektor jasa, industri kreatif, hingga teknologi digital yang terus berkembang pesat.

‎Farhan mengungkapkan, tingkat pengangguran di Kota Bandung saat ini tercatat sebesar 7,44 persen. Melalui penguatan program pelatihan, Pemkot menargetkan angka tersebut dapat ditekan secara bertahap.

‎Selain memperluas akses, Pemkot Bandung juga mendorong lembaga kursus dan pelatihan untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menurut Farhan, perubahan teknologi yang cepat menuntut adanya pembaruan kurikulum dan metode pembelajaran yang lebih responsif terhadap kebutuhan industri.

‎“Lembaga kursus dan pelatihan harus terus berkembang seiring dengan perubahan teknologi dan kebutuhan keterampilan di dunia kerja,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....