Danrindam: Santri Didapuk Jadi Garda Literasi Damai dan Jaga NKRI

  • 19 Apr 2026 15:50 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.,ID, Bandung - Penutupan program Kemah KKRI Siliwangi Santri Camp (SSC) di Markas Rindam III/Siliwangi tak sekadar menjadi akhir kegiatan, tetapi juga awal dari mandat baru bagi para Santriwan/Santriwati.

Amanat Pangdam lll/Siliwangi yang disampaikan, Komandan Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) III/Siliwangi, Brigjen TNI Bagus Budi Adrianto, menegaskan bahwa santri kini diharapkan tampil sebagai garda terdepan dalam menangkal disinformasi, provokasi, dan benih radikalisme di tengah masyarakat.

Alih-alih hanya menekankan aspek ketahanan fisik atau kedisiplinan, pesan utama yang mengemuka justru menyasar kemampuan berpikir kritis dan kepekaan sosial. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan hanya ancaman nyata, tetapi juga “perang narasi” yang berpotensi memecah belah masyarakat melalui isu agama dan identitas.

“Santri harus mampu membaca situasi dengan jernih. Jangan mudah terpancing oleh informasi yang belum tentu benar, apalagi yang mengarah pada adu domba,” ujar Danrindam, usai memimpin upacara penutupan, Minggu 19 April 2026.

Ia menilai, peran santri sangat strategis karena berada di tengah masyarakat dan memiliki pengaruh moral yang kuat. Dengan bekal pelatihan selama tiga hari, para peserta diminta tidak berhenti pada tataran teori, melainkan aktif menjadi agen penyejuk di lingkungannya masing-masing.

Sorotan terhadap radikalisme dan intoleransi menjadi bagian penting dalam evaluasi kegiatan ini. Komandan Rindam mengingatkan bahwa ancaman tersebut kerap muncul dalam bentuk halus, melalui pesan berantai, media sosial, hingga ceramah yang menyudutkan kelompok tertentu.

“Kalau ada narasi yang memecah belah, itu harus dilawan dengan ketenangan dan pemahaman. Kita jaga kebersamaan, karena itu kunci utama,” katanya.

Menariknya, respons peserta terhadap program ini terbilang tinggi. Sejumlah santri mengusulkan agar durasi kegiatan diperpanjang dan materi diperluas, terutama yang berkaitan dengan wawasan kebangsaan dan literasi digital.

Pihak penyelenggara pun membuka peluang evaluasi. Danrindam menyebut, konsep SSC masih akan dikembangkan melalui uji coba berkelanjutan, termasuk kemungkinan penambahan waktu dan peningkatan kualitas materi.

Meski begitu, kepastian jadwal pelaksanaan berikutnya masih menunggu arahan dari komando atas. Untuk sementara, hasil dari angkatan perdana ini diharapkan sudah mulai terasa dampaknya di masyarakat.

"Dengan penekanan pada peran santri sebagai penangkal konflik berbasis narasi, SSC tampak diarahkan bukan hanya sebagai program pelatihan, tetapi juga investasi sosial jangka panjang dalam menjaga harmoni keberagaman di Indonesia," bebernya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....