BMKG Ungkap Kemarau di Jabar Bakal Lebih Kering
- 15 Apr 2026 09:05 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Musim kemarau di Jawa Barat diperkirakan berlangsung lebih kering dari biasanya. Kondisi tersebut dipicu kombinasi faktor iklim global yang berpotensi menekan curah hujan di sebagian besar wilayah.
Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat mencatat, sekira 93 persen wilayah akan mengalami curah hujan di bawah rata-rata klimatologis. Artinya, sebagian besar daerah berisiko menghadapi kekeringan lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Sebagian besar wilayah diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal atau lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya,” ungkap Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, Vivi Indhira Purnaningtyas, Selasa, 14 April 2026.
Selain itu, awal musim kemarau juga diperkirakan terjadi lebih cepat di banyak wilayah. Pergeseran tersebut menandakan perubahan pola musim yang dapat memengaruhi berbagai aktivitas masyarakat.
“Sebagian besar wilayah Jawa Barat, yaitu 66 persen, diprediksi akan memasuki musim kemarau lebih cepat dibandingkan kondisi normalnya,” ujarnya.
BMKG menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan dinamika iklim global, khususnya fenomena El Niño yang diprediksi mulai berkembang pada pertengahan tahun. Saat ini, ENSO masih berada pada fase netral, namun menunjukkan kecenderungan menguat.
Perkembangan tersebut diperkirakan mengarah pada El Niño dengan intensitas lemah hingga moderat pada periode Mei hingga Juli 2026. Selain itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga berpotensi berubah menjadi positif pada semester kedua.
Kombinasi kedua fenomena tersebut dapat mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat. Dampaknya adalah berkurangnya curah hujan secara luas dan meningkatnya kondisi kering.
Secara spasial, beberapa wilayah utara seperti Bekasi dan Karawang telah lebih dulu mengalami awal kemarau sejak Maret. Pada April, kondisi serupa mulai meluas ke wilayah Karawang bagian tengah, Subang, dan sebagian Indramayu.
Sebagian besar wilayah diperkirakan memasuki kemarau pada Mei, sementara daerah lain menyusul pada Juni. Wilayah yang mengalami perbedaan musim tidak terlalu tegas juga tetap ada, meski jumlahnya terbatas.
Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus di mayoritas wilayah Jawa Barat. Sebagian kecil daerah diperkirakan mencapai kondisi paling kering lebih awal pada Juli, sementara lainnya pada September.
“Secara umum, waktu puncak kemarau masih berada dalam kisaran normal klimatologis,” kata Vivi.
BMKG mengingatkan, kondisi kemarau yang lebih kering perlu diantisipasi sejak dini. Dampak yang mungkin terjadi meliputi penurunan produksi pertanian, berkurangnya ketersediaan air bersih, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat dan pemangku kepentingan diimbau meningkatkan kesiapsiagaan. Langkah mitigasi seperti pengelolaan air dan kewaspadaan terhadap kebakaran dinilai penting untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....