Gubernur Ajak Putus Budaya Nikahan Mewah, Utamakan Nyicil Rumah

  • 15 Apr 2026 09:01 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID,Bandung - Biaya besar dalam tradisi pernikahan dinilai kerap tidak sebanding dengan manfaat jangka panjang yang diperoleh pasangan baru. Pengeluaran yang terkonsentrasi pada seremoni disebut berpotensi menggeser prioritas utama kehidupan setelah akad.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menilai dana pernikahan seharusnya lebih diarahkan pada kebutuhan strategis seperti kepemilikan rumah. Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam memulai kehidupan berkeluarga.

“Saya mengajak pada semuanya, ketika anda menikah, daripada bikin pesta, lebih baik uangnya untuk uang muka perumahan,” kata Dedi di Soreang, Kabupaten Bandung, Senin, 13 April 2026.

Menurutnya, pesta pernikahan hanya memberikan kebahagiaan singkat, sementara rumah menjadi penopang jangka panjang kehidupan pasangan. Ia juga menilai tekanan sosial sering membuat pasangan terjebak pada pengeluaran berlebihan.

“Pesta (pernikahan) itu jadi rajanya cuma semalam. Kalau kita punya rumah, kita jadi raja selamanya,” ujarnya.

Dedi mengingatkan agar calon pengantin tidak memaksakan biaya di luar kemampuan, terutama yang bersumber dari pinjaman. Ia menilai kondisi tersebut justru dapat membebani awal kehidupan rumah tangga.

“Pada Gen Z yang mau nikah, lebih baik begini saja. Nggak usah ada pesta yang panjang, nggak usah seserahan segala, ngadain acara, tapi duitnya minjem di bank emok. Segala dibuat-buat, tapi duit minjem,” tegas Dedi.

Sebagai alternatif, ia mendorong pelaksanaan pernikahan yang lebih sederhana tanpa mengurangi makna. Akad di Kantor Urusan Agama (KUA) dinilai cukup sebagai awal membangun kehidupan mandiri.

“Lebih baik pagi-pagi akad nikah di kantor KUA, siang sudah pulang ke rumah sendiri walaupun nyicil,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....