BMKG Jelaskan Pemicu Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Wilayah Jawa Barat

  • 03 Apr 2026 16:50 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap faktor penyebab terjadinya bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Jawa Barat, menyusul hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur daerah itu pada Kamis 2 April 2026.

Berdasarkan data BMKG Bandung, dampak cuaca ekstrem tersebut dirasakan di beberapa daerah, antara lain Kabupaten Bandung, Kabupaten Cianjur, Kota Bandung, dan Kota Tasikmalaya. Hujan deras yang terjadi memicu kejadian banjir, longsor, hingga pohon tumbang.

Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian wilayah perairan Indonesia. Hal ini meningkatkan suplai uap air ke wilayah Jawa Barat dan berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan.

“Terpantau adanya belokan angin di sekitar Jawa Barat yang mendukung pertumbuhan awan konvektif. Gelombang atmosfer tipe Equatorial Rossby juga terdeteksi aktif, sehingga memperkuat pembentukan awan hujan,” ujar Teguh, Jumat 3 April 2026.

Detail bencana hidrometeorologi tersebut di antaranya di Kota Bandung, hujan deras berlangsung sekitar satu jam mengakibatkan banjir di kawasan Jati Permai pada pukul 14.00 WIB. Luapan Sungai Citepus menggenangi sejumlah ruas jalan di permukiman warga bantaran sungai.

Sementara di Kabupaten Bandung, longsor terjadi di Kampung Neglasari, Desa Cibeureum, Kecamatan Kertasari sekitar pukul 15.00 WIB. Material tanah bercampur lumpur terbawa aliran air hujan hingga menutup badan jalan, sehingga menghambat akses kendaraan.

Lalu di Kabupaten Cianjur, longsor terjadi sekitar pukul 14.15 WIB di Kampung Awilarangan, Desa Cikahuripan, Kecamatan Gekbrong. Saluran irigasi meluap akibat hujan deras dan menggerus tebing setinggi sekitar dua meter dan longsoran merusak dua dapur rumah warga.

Adapun di Kota Tasikmalaya, banjir dan pohon tumbang dilaporkan terjadi di beberapa kecamatan di empat kecamatan. Kondisi ini dipicu oleh hujan deras yang menyebabkan banjir limpasan di sejumlah titik.

Teguh juga menambahkan, kelembapan udara di Jawa Barat cukup tinggi, terutama pada lapisan 850 hingga 500 milibar dengan kisaran 50 hingga 95 persen. Kondisi ini memperkuat proses pembentukan awan hujan di atmosfer. BMKG juga mencatat indeks labilitas atmosfer berada pada kategori sedang hingga kuat, yang mengindikasikan meningkatnya potensi pertumbuhan awan konvektif skala lokal.

Berdasarkan analisis curah hujan selama periode 30 Maret hingga 1 April 2026, wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat. Kondisi tersebut menyebabkan tanah menjadi jenuh dan labil, sehingga meningkatkan potensi terjadinya longsor.

BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang, terutama pada sore hari. Kondisi ini umumnya terjadi setelah pemanasan maksimum pada pukul 10.00 hingga 14.00 WIB yang ditandai dengan munculnya awan cumulonimbus.

Masyarakat juga diimbau berhati-hati pada sambaran petir, menghindari area terbuka dan tempat tinggi, serta menjaga jarak aman saat berteduh di luar ruangan.

“Khusus wilayah dengan topografi curam atau rawan longsor, masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan terjadi beberapa hari berturut-turut. Sementara di daerah dataran rendah dan bantaran sungai, perlu mewaspadai potensi genangan dan banjir,” kata Teguh.

BMKG memprakirakan dalam satu hingga tiga hari ke depan masih berpotensi terjadi hujan lokal pada siang hingga malam hari di wilayah Kabupaten dan Kota Bandung, Kabupaten Cianjur, serta Kota Tasikmalaya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....