Harga Kedelai dan Plastik Naik, Perajin Tahu di Jabar Tertekan

  • 02 Apr 2026 14:30 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah berdampak pada kenaikan harga minyak dunia yang turut memicu lonjakan harga bahan baku industri pangan, termasuk kedelai dan plastik kemasan tahu. Kondisi ini membuat para perajin tahu di Jawa Barat semakin tertekan.

‎Ketua Paguyuban Tahu Tempe Jawa Barat, Muhamad Zamaludin, mengungkapkan bahwa kenaikan harga tidak hanya terjadi pada kedelai, tetapi juga pada bahan pendukung seperti plastik kemasan yang mengalami lonjakan cukup signifikan.

‎“Pengaruhnya besar, apalagi plastik naiknya tinggi sekali. Plastik itu kan kami butuhkan untuk pengemasan. Harga kedelai sekarang sudah di kisaran Rp10.700–Rp10.800 per kilogram, bahkan kemarin naik lagi Rp200. Untuk plastik, kenaikannya sekitar Rp14.000 per kilogram, hampir 50 persen,” ujar Zamaludin, Kamis 2 April 2026.


‎Menurutnya, kenaikan harga bahan baku ini memaksa sebagian besar perajin untuk menyesuaikan harga jual produk. Meski demikian, penyesuaian dilakukan secara bertahap agar tidak memberatkan konsumen.

‎“Untuk sementara, lebih banyak yang menaikkan harga. Ada juga yang menyiasati dengan mengurangi ukuran, tapi mayoritas memilih menaikkan harga sedikit. Misalnya dari Rp60 ribu menjadi Rp62 ribu per papan tahu. Sementara tempe naik sekitar 7 hingga 10 persen,” jelasnya.

‎Dalam satu papan tahu, jumlah potongan bervariasi, mulai dari sekitar 80 hingga 100 potong tergantung ukuran. Zamaludin menegaskan, kenaikan harga ini menjadi langkah terpaksa agar para perajin tetap bisa bertahan di tengah lonjakan biaya produksi.

‎Ia berharap pemerintah dapat segera turun tangan untuk menstabilkan harga bahan baku, khususnya kedelai. Menurutnya, para perajin kecil mulai merasakan dampak yang cukup berat.

‎“Kami berharap pemerintah bisa membantu, karena pengrajin kecil sudah mulai menjerit. Yang penting bahan baku tersedia dan harganya lebih terjangkau,” katanya.

‎Zamaludin juga menyebut alternatif impor kedelai dari negara seperti India dan Brasil sebagai solusi jangka pendek, meskipun kualitasnya dinilai masih di bawah kedelai asal Amerika Serikat dan Kanada.

‎Untuk bertahan, para perajin terpaksa menaikkan harga secara bertahap. Ia menuturkan, kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak sebelum Ramadan dengan peningkatan harian sekitar Rp100 hingga Rp200, dan terus berlanjut setelah Lebaran.

‎“Kalau kedelai naik lagi, otomatis bahan lain juga ikut naik, seperti plastik, mentega, bawang putih, garam, hingga kunyit. Semua saling berkaitan,” ucapnya.

‎Dalam operasional sehari-hari, seorang perajin rata-rata menghabiskan 3,5 hingga 4 kuintal kedelai. Bahkan, untuk skala besar, kebutuhan bisa mencapai hingga 8 ton per hari.

‎Meski pasokan bahan baku relatif aman, kenaikan harga tetap menjadi persoalan utama yang membebani pelaku usaha. Selain itu, biaya energi seperti kayu bakar dan gas juga ikut meningkat.

‎Namun demikian, Zamaludin mengapresiasi sikap konsumen yang dinilai cukup memahami kondisi saat ini.

‎“Alhamdulillah konsumen mengerti. Mereka sudah mengikuti berita, jadi sebelum membeli biasanya sudah bertanya dulu soal kenaikan harga,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....