Pesantren Broadcasting RRI Bandung Ajarkan Public Speaking hingga Teknik Siaran

  • 07 Mar 2026 11:57 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung kembali menggelar kegiatan Pesantren Broadcasting Angkatan II yang diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah. Kegiatan pelatihan penyiaran tersebut berlangsung di Auditorium RRI Bandung pada 7–8 Maret 2026 dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat, khususnya generasi muda.

‎Kepala Stasiun RRI Bandung, Soleman Yusuf, mengatakan kegiatan Pesantren Broadcasting ini merupakan pelaksanaan kedua setelah sebelumnya sukses digelar pada tahun lalu. Tingginya minat peserta pada pelaksanaan pertama membuat RRI Bandung kembali membuka program serupa di tahun ini.

‎“Pesantren Broadcasting ini merupakan kegiatan yang kedua kalinya kami selenggarakan. Tahun lalu animonya cukup tinggi, terutama dari peserta muda berusia sekitar 17 sampai 23 tahun. Karena minatnya cukup besar, tahun ini kami kembali membuka kegiatan ini,” ujar Soleman usai pembukaan kegiatan Pesantren Broadcasting Angkatan II

di RRI Bandung, Sabtu 7 Maret 2026.

‎Meski peminatnya banyak, panitia membatasi jumlah peserta hanya sekitar 30 orang. Pembatasan tersebut dilakukan agar proses pembelajaran, transfer pengetahuan, serta praktik keterampilan penyiaran dapat berjalan lebih efektif.

‎Menurut Soleman, selama pelatihan para peserta mendapatkan berbagai materi dasar penyiaran yang penting, mulai dari public speaking, teknik komunikasi asertif, hingga cara berbicara secara efektif di depan publik.

‎“Di sini peserta mendapatkan pembelajaran tentang public speaking, bagaimana menjadi komunikator yang asertif, serta bagaimana berbicara dengan baik di depan publik,” katanya.

‎Peserta kegiatan ini berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga tenaga pendidik. Rentang usia peserta juga cukup luas, dari usia SMP hingga peserta paling senior yang berusia 57 tahun.

‎Selama dua hari kegiatan, para peserta tidak hanya menerima materi teori tetapi juga praktik langsung. Mereka berlatih menjadi master of ceremony (MC), mencoba teknik voice over, hingga belajar tampil sebagai live host.

‎Selain itu, peserta juga diarahkan untuk memproduksi berbagai konten siaran, baik dalam bentuk rekaman audio maupun audio visual, sebagai bagian dari pengenalan dunia broadcasting secara praktis.

‎Soleman menambahkan, peserta kegiatan tidak hanya berasal dari wilayah Bandung. Beberapa di antaranya datang dari luar daerah bahkan luar negeri.

‎“Pesertanya cukup beragam, bahkan ada yang datang dari luar daerah. Yang paling jauh ada peserta dari Malaysia. Selain itu ada juga peserta dari Jakarta dan beberapa kabupaten di sekitar Bandung,” ucapnya.

‎Informasi mengenai kegiatan ini disebarkan melalui berbagai saluran, tidak hanya melalui siaran radio Pro 1 dan Pro 2 RRI, tetapi juga melalui media sosial resmi RRI Bandung sehingga jangkauannya semakin luas.

‎Kegiatan Pesantren Broadcasting ini juga diselenggarakan bekerja sama dengan Persatuan Pensiunan Radio Republik Indonesia (PPRRI). Dalam pelaksanaannya, panitia menghadirkan sejumlah coach dan praktisi profesional di bidang penyiaran, seperti MC profesional hingga content creator.

‎Soleman berharap para peserta tidak hanya mengikuti pelatihan selama dua hari, tetapi juga memperoleh wawasan baru serta keterampilan komunikasi yang dapat diterapkan dalam berbagai aktivitas.

‎“Harapannya setelah mengikuti kegiatan ini mereka mendapatkan insight baru, misalnya bagaimana berbicara secara meyakinkan, berbicara efektif di depan orang lain, dan keterampilan komunikasi lainnya,” katanya.

‎Sementara itu, Ketua Panitia Pesantren Broadcasting RRI Bandung Angkatan II, Deni Sujana, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang secara khusus diselenggarakan setiap bulan Ramadan.

‎Menurutnya, konsep “pesantren broadcasting” dipilih untuk memadukan semangat bulan Ramadan dengan aktivitas belajar yang bermanfaat bagi masyarakat.

‎“Pesantren Broadcasting RRI Bandung Angkatan II resmi diselenggarakan pada 7–8 Maret 2026 di Auditorium RRI Bandung. Kegiatan ini merupakan program pelatihan penyiaran yang dirancang sebagai ruang belajar bagi masyarakat yang tertarik dengan dunia broadcasting,” ujarnya.

‎Ia menambahkan, Ramadan tidak hanya menjadi momentum meningkatkan ibadah, tetapi juga kesempatan untuk memperbanyak kegiatan positif, termasuk menuntut ilmu dan meningkatkan keterampilan.

‎Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan berbagai materi yang relevan dengan kebutuhan industri media saat ini, seperti public speaking, teknik menjadi MC, voice over, hingga praktik live host yang dipandu langsung oleh praktisi penyiaran dari RRI Bandung.

‎Selain materi teori, peserta juga diberi kesempatan praktik secara langsung agar mampu memahami teknik berbicara di depan publik, menguasai vokal, serta membangun karakter komunikasi yang baik.

‎Pesantren Broadcasting Angkatan II tahun ini diikuti sekitar 28 peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Bandung dan sekitarnya. Bahkan, beberapa peserta datang dari luar kota seperti Jakarta untuk mengikuti pelatihan selama dua hari tersebut.

‎Antusiasme peserta menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap dunia penyiaran dan komunikasi publik masih cukup tinggi, terutama jika tersedia ruang belajar yang praktis dan aplikatif.

‎Melalui program ini, RRI Bandung berharap dapat melahirkan generasi muda yang percaya diri dalam berkomunikasi, memiliki keterampilan dasar broadcasting, serta mampu memanfaatkan kemampuan tersebut untuk kegiatan positif di masyarakat.

‎Salah satu peserta, Rafaiz Ghazian Lusaid, yang merupakan freelancer asal Jakarta mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut.

‎“Kegiatan ini mengajarkan kami bagaimana cara berbicara di depan umum atau public speaking. Kami belajar bagaimana mengeluarkan vokal dengan baik, menyampaikan pesan, serta mempresentasikannya kepada orang lain,” katanya.

‎Ia mengaku sebelumnya sering diminta berbicara di kampus maupun organisasi, tetapi belum memiliki dasar ilmu komunikasi yang kuat.

‎“Selama ini saya belajar sendiri. Di kegiatan ini saya mendapatkan banyak metode baru yang disampaikan secara singkat, jelas, dan mudah dipahami sehingga bisa langsung dipraktikkan,” ujarnya.

‎Rafaiz juga menilai keterampilan yang diperoleh dari pelatihan tersebut tidak hanya bermanfaat di lingkungan kampus, tetapi juga dapat digunakan dalam berbagai aktivitas publik lainnya.

‎Ia bahkan mengaku mengikuti kegiatan ini secara tidak sengaja. Awalnya ia sedang berjalan dan menemukan informasi mengenai kegiatan tersebut di RRI Bandung, kemudian bertemu langsung dengan ketua panitia.

‎“Setelah mendengar penjelasannya, saya jadi tertarik dan akhirnya memutuskan untuk ikut. Dulu sebenarnya saya pernah tertarik dengan dunia broadcasting, tetapi sempat saya pendam karena memilih jalan yang lain,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....