Menteri LH Sebut Bandung Masih Berstatus Kota dalam Pembinaan

  • 28 Feb 2026 13:27 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Penanganan sampah di Bandung saat ini masih berada dalam kategori kota dalam pembinaan. Status tersebut merupakan bagian dari lima kategori penilaian kebersihan kota, yakni kota kotor, kota dalam pengawasan, kota dalam pembinaan, menuju kota bersih, serta Adipura dan Adipura Kencana.

‎Menteri Lingkungan Hidup (LH) sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menegaskan, meski masih berstatus kota dalam pembinaan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan capaian tersebut dalam waktu dekat.

‎“Hari ini Kota Bandung tercinta statusnya masih kota dalam pembinaan. Tahun ini Pak Wali Kota bersama jajarannya berkomitmen penuh untuk mencapai kota bersih atau bahkan Adipura. Saya kira mampu, masih ada satu tahun kita berjibaku. Ini menjadi jalan keluar yang paling mungkin di tengah ketidakterdapatan TPA,” ujar Hanif saat meninjau kawasan Kelurahan Antapani Tengah, Kecamatan Antapani, Sabtu 28 Februari 2026.

‎Menurutnya, persoalan keterbatasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi tantangan besar bagi Kota Bandung. Namun demikian, berbagai upaya terus dilakukan, salah satunya melalui gerakan Gaslah yang dinilai sebagai langkah mendasar dalam penanganan sampah dari hulu.

‎Ia menilai, gerakan tersebut relatif cepat jika dibandingkan dengan pengalaman sejumlah negara lain yang membutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang serupa.

‎“Ini merupakan langkah paling mendasar untuk penanganan sampah. Gerakannya relatif cepat. Banyak negara memerlukan waktu 10–15 tahun untuk melakukan hal yang sama,” katanya.

‎Dalam kunjungan tersebut, Hanif juga menyoroti konsistensi warga RW 19 Antapani Tengah yang telah memulai inisiatif pengelolaan sampah sejak 2019. Menurutnya, keberhasilan program pengurangan dan pengolahan sampah tidak bisa diraih secara instan, melainkan membutuhkan masa inkubasi dan proses penerapan di tengah masyarakat.

‎“Kita hari ini berada di RW 19. Sejak 2019 mereka memulainya. Tidak ada yang instan, semuanya butuh masa inkubasi dan masa penerapan di masyarakat,” ucapnya.

‎Ia berharap, gerakan Gaslah terus diperluas dan diperkuat di berbagai wilayah Kota Bandung. Meski diakui akan menyerap banyak sumber dana dan sumber daya manusia, upaya tersebut dinilai sebagai langkah yang tidak terhindarkan demi mewujudkan kota yang bersih dan berkelanjutan.

‎“Harapan saya Gaslah ini semakin besar, tidak boleh lelah. Memang akan menyerap banyak sumber dana dan sumber daya manusia, tapi itu harus dilakukan. Tidak ada kata lain untuk Bandung kita tercinta,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....