Rektor ITB Serahkan Rumah Huntara untuk Korban Longsor Pasirlangu
- 23 Feb 2026 20:22 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. secara simbolis menyerahkan satu unit hunian sementara (huntara) dan bantuan sembako bagi warga terdampak longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, beberapa waktu lalu. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari Program Desa Bangkit Cisarua kolaborasi antara DPMK ITB, Rumah Amal Salman, Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, dan Ikatan Alumni ITB.
Kegiatan ini bertujuan memberikan respons kemanusiaan terpadu bagi masyarakat terdampak longsor. Yaitu melalui fase tanggap darurat, pemulihan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi dengan penerapan teknologi tepat guna dan dukungan keahlian para pakar dari ITB.
"Program ini memberikan manfaat berupa terpenuhinya kebutuhan dasar, pemulihan kondisi psikososial, tersedianya hunian sementara. Dan akses air bersih yang layak, serta pulihnya kembali infrastruktur dasar masyarakat secara aman dan berkelanjutan," ungkap Prof. Tatacipta, Senin 23 Februari 2026.
Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Prof. Dr.-Ing. Zulfiadi Zulhan, S.T., M.T., menyampaikan, sejak hari kedua bencana di Cisarua, ITB hadir dan membentuk empat tim. Yaitu terdiri dari manajemen risiko kebencanaan, kesehatan, permukiman, serta air dan sanitasi.
Prof. Zulfiadi berharap hunian sementara yang diserahkan dapat menjadi awal pemulihan bagi warga terdampak. “Mudah-mudahan pada hari ini, hari pertama bulan Ramadan, hunian sementara ini bisa bermanfaat bagi ibu dan bapak yang terkena dampak dari bencana longsor ini. Mudah-mudahan ke depan kehidupannya membaik,” katanya.
Ketua Tim Arsitek, Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko, S.T., M.T., menjelaskan bahwa desain huntara mengutamakan kecepatan pembangunan serta pemanfaatan material yang mudah diperoleh saat bencana. Huntara seluas 6 x 6 meter yang diserahkan tersebut dirancang untuk menampung dua keluarga dengan total penghuni tujuh orang.
“Pada prinsipnya, saya mendesain bangunan ini dengan tujuan agar memanfaatkan kayu. Hal itu karena ini juga ditujukan untuk program pasca bencana di Sumatra dan Aceh,” ujarnya.
Dr. Andry mengatakan, kecepatan pembangunan dalam kondisi bencana sangat penting. “Hal ini menyangkut hajat utama manusia, yaitu tempat untuk berlindung dan bernaung dari cuaca yang panas maupun dingin seperti yang ada di sini,” tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....