Imlek Momen Sakral menuju Akar Spriritual

  • 14 Feb 2026 19:03 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Wangi hio perlahan merebak di udara Jalan Cibadak, Kota Bandung, menandai datangnya Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Di balik kemeriahan lampion merah yang bergelantungan, atraksi barongsai, serta tradisi berbagi angpau, tersimpan makna spiritual yang kerap luput dari perhatian publik.

Wakil Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia(MAKIN), Fam Kiun Fat yang akrab disapa Ko Akiun, menegaskan bahwa Imlek sejatinya merupakan hari raya keagamaan bagi umat Konghucu. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang memandang Imlek sebatas perayaan budaya Tionghoa, tanpa memahami dimensi religius yang melekat di dalamnya.

“Jadi sebenarnya Imlek itu, saya garis bawahi ya, menurut umat Konghucu ialah sebagai hari keagamaan. Namun tidak semua orang Tionghoa menganggap sebagai hari keagamaan, melainkan menganggapnya sebagai hari kebudayaan,” ujar Ko Akiun, Sabtu 14 Februari 2026.

Ia menjelaskan, bagi umat Konghucu, Imlek adalah momen sakral yang menjadi jalan pulang menuju akar spiritual. Momentum ini dimaknai sebagai waktu untuk introspeksi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperkuat bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa dan penghormatan kepada leluhur.

Di Kota Bandung, perayaan Imlek tahun ini dipastikan berlangsung khidmat seperti tahun-tahun sebelumnya. Tradisi diawali dengan makan malam bersama keluarga pada malam pergantian tahun, yang melambangkan kebersamaan dan rasa syukur. Setelah itu, umat melaksanakan ibadah di litang atau tempat ibadah Konghucu, disertai doa-doa untuk memohon keberkahan dan keselamatan di tahun yang baru.

Ko Akiun juga menyebut, perayaan Imlek di Bandung menjadi ruang perjumpaan lintas iman. Sejumlah unsur turut hadir, di antaranya (FKUB) serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Bandung dari unsur TNI dan Polri. Kehadiran unsur pemerintah dan aparat keamanan, kata dia, bukan hanya untuk memastikan situasi tetap kondusif, tetapi juga sebagai simbol dukungan terhadap kebebasan beragama.

“Kehadiran mereka untuk melihat situasi, sekaligus melakukan pengamanan. Tapi yang paling penting adalah kebersamaan dan saling menghormati,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Bandung menegaskan komitmen Pemerintah Kota Bandung dalam menjaga harmoni serta menjadikan Bandung sebagai kota inklusif bagi seluruh warganya, tanpa memandang latar belakang suku dan agama.

Menurut Farhan, sejak akhir 2024 Pendopo Kota Bandung rutin dimanfaatkan sebagai ruang doa bersama lintas agama. Hal tersebut menjadi simbol bahwa pemerintah hadir untuk memfasilitasi kehidupan beragama yang setara dan harmonis.

“Kota Bandung adalah rumah bagi semua. Kerukunan bukan hanya slogan, tetapi fondasi kehidupan sosial kita,” kata Farhan usai menghadiri silaturahmi tokoh agama dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.

Ia juga menyampaikan rencana dukungan operasional bagi rumah ibadah lintas agama sebagai bentuk penguatan kehidupan beragama yang adil dan inklusif. Menurutnya, toleransi tidak cukup diwacanakan, tetapi harus diwujudkan melalui kerja kolektif dalam menyelesaikan berbagai persoalan kota,“ Bandung tumbuh dari kebersamaan. Perbedaan justru memperkaya kita,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....