Kota Bandung Lakukan Strategi Kebangkitan Sektor Pariwisata

  • 12 Feb 2026 17:50 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, membeberkan strategi kebangkitan sektor pariwisata Kota Bandung setelah mengalami penurunan tajam sepanjang awal 2025. Melalui penguatan mobilitas wisatawan dan penyelenggaraan ratusan event, Farhan optimistis roda perekonomian Kota Kembang kembali menggeliat dengan proyeksi pertumbuhan mencapai 5,7 hingga 6 persen pada 2026.

Farhan menjelaskan, Kota Bandung dengan populasi sekitar 2,6 juta jiwa memiliki tingkat mobilitas masyarakat yang sangat tinggi. Sepanjang 2025, tercatat sekitar 24 juta pergerakan penerbangan masuk dan keluar dari Bandung. Angka tersebut setara dengan sekitar 12 juta mobilitas orang dari dan ke Kota Bandung.

Menurutnya, tingginya mobilitas menjadi modal utama dalam membangkitkan kembali sektor pariwisata yang sempat terpukul akibat kebijakan pengetatan anggaran pemerintah.“Sejak 5 April 2025, setelah Lebaran, pariwisata Bandung mulai mengalami momen pemulihan. Ini menjadi titik balik bagi industri hotel, restoran, dan sektor pendukung lainnya,” ujar Farhan, Kamis 12 Februari 2026.

Ia mengakui, kebijakan pengetatan anggaran kegiatan dan perjalanan dinas pemerintah sejak awal 2025 berdampak signifikan terhadap industri pariwisata. Ketergantungan hotel dan restoran pada kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) yang bersumber dari pemerintah membuat tingkat hunian hotel anjlok drastis.

“Okupansi hotel yang sebelumnya berada di kisaran 50–60 persen sempat jatuh ke rata-rata 30 persen selama sekitar tiga bulan. Bahkan, potensi industri pariwisata kita sempat tinggal 38 persen,” ungkapnya.

Kondisi tersebut memaksa Pemerintah Kota Bandung untuk segera mengambil langkah strategis. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggulirkan program penguatan mobilitas wisata melalui penyelenggaraan event secara masif. Sepanjang 2025, Kota Bandung tercatat menjadi tuan rumah sekitar 260 event, mulai dari skala lokal hingga nasional.

“Mobilitas itu kunci. Ketika orang bergerak, pariwisata hidup. Maka kami dorong event sebagai mesin penggerak ekonomi,” katanya.

Sebagai bentuk dukungan, Pemkot Bandung memberikan berbagai insentif kepada promotor acara. Salah satunya berupa diskon pajak hiburan PB1 hingga 50 persen untuk event yang dinilai mampu mendatangkan pergerakan wisatawan dalam jumlah besar.

Tak hanya event seni dan hiburan, momentum kemenangan Persib Bandung juga dinilai memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Euforia juara yang berlangsung hampir tiga pekan penuh memicu lonjakan kunjungan wisatawan dari berbagai daerah, khususnya di Jawa Barat.

“Orang datang, menginap di hotel, makan di restoran, belanja di warung. Ekonomi bergerak nyata sampai ke level mikro,” katanya.

Selain itu, event olahraga berskala besar seperti Pocari Sweat Run (Marathon) juga dimanfaatkan sebagai magnet wisata. Pemkot Bandung bahkan mendorong penyelenggara untuk memperpanjang durasi kegiatan menjadi dua hari. Langkah tersebut bertujuan mengurai kepadatan lalu lintas sekaligus memperpanjang lama tinggal wisatawan di Kota Bandung.

Berdasarkan data mobilitas Telkomsel, dari sekitar 19.000 peserta Pocari Run 2025, sebanyak 10 persen berasal dari Jakarta Selatan. Segmen ini dinilai sebagai wisatawan dengan daya beli tinggi dan mayoritas merupakan perempuan.

“Ini penting karena wisatawan dengan daya beli tinggi akan menciptakan efek berantai pada ekonomi lokal, mulai dari hotel, kuliner, hingga ritel,” katanya.

Ia meyakini, geliat sektor pariwisata akan berdampak langsung terhadap iklim investasi di Kota Bandung. Keramaian wisata dinilai mampu membentuk tradisi kunjungan, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya.

“Pariwisata menciptakan tradisi, tradisi menciptakan keramaian, dan keramaian melahirkan investasi,” tandasnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....